Penyebab Banjir Bandang Kerinci dan Sungai Penuh: Ribuan Hektare Hutan TNKS Rusak
Kerinci, MZK News – Tragedi banjir bandang yang merendam wilayah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci pada Januari 2024 lalu meninggalkan luka mendalam. Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur dan bangunan, tetapi juga merenggut korban jiwa serta memaksa ribuan warga mengungsi.
Kepala KPHP Unit Kerinci, Neneng Susanti, mengungkapkan bahwa penyebab utama bencana ini adalah hilangnya kawasan resapan air. Hal ini terjadi akibat alih fungsi hutan secara masif yang kini berubah menjadi lahan pertanian hingga permukiman.
Berdasarkan analisis data, ribuan hektare kawasan hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan hutan adat kini mengalami kerusakan parah. Kerusakan ini dipicu oleh pembukaan lahan untuk perladangan, pemukiman, hingga pengembangan sektor wisata.
“Salah satu faktor banjir di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci adalah semakin hilangnya kawasan resapan itu sendiri. Ini menjadi catatan bagi pemerintah,” ujar Neneng Susanti, Kamis (8/4/2026).
Neneng menyoroti penataan ruang yang selama ini kurang mempertimbangkan aspek ekologis di kawasan hulu dan pegunungan. Ketidakseimbangan ini membuat bentang alam menjadi sangat rentan saat curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Alih fungsi lahan hutan menjadi perladangan mengakibatkan tekstur tanah kehilangan kekuatannya dalam menahan gempuran air hujan. Kondisi ini diperparah dengan implementasi program perhutanan sosial yang dinilai kurang pengawasan.
Neneng juga mengkritik langkah pemerintah dalam melakukan pemulihan lingkungan yang dianggap belum menyentuh akar permasalahan. Program rehabilitasi yang ada dinilai belum berjalan optimal di lapangan.
“Keseriusan pemerintah untuk melakukan rehabilitasi hutan itu masih pada taraf kulitnya saja, tetapi di lapangan saya kira masih setengah-setengah,” tegas Neneng.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kondisi puncak gunung yang gundul membuat air hujan langsung turun ke pemukiman tanpa ada yang menyerap. Hal inilah yang menjadi pemicu utama datangnya banjir bandang secara tiba-tiba.
Selain hutan yang gundul, erosi yang terjadi selama bertahun-tahun telah menyebabkan pendangkalan serius pada jalur aliran air atau sungai. Pendangkalan ini membuat kapasitas sungai tidak lagi mampu menampung debit air yang besar.
Menghadapi potensi hujan susulan, Neneng mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah antisipasi. Mitigasi yang cepat sangat diperlukan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dan kerusakan yang lebih besar di masa depan.
Reporter: Dewi Yulianti
Editor: Martha Syaflina


