“Presiden Jalan-jalan”: Citra Negara Kuat atau Sok Kuat?
Banyak yang menganggap bahwa Presiden Prabowo Subianto pergi jalan-jalan ke luar negeri. Bukan sekali-dua kali, tetapi sering kali. Di tengah kisruh rupiah yang semakin tertekan serta anggaran yang semakin memburuk, Presiden Prabowo masih melenggangkan kaki ke negeri tetangga. Alasannya, untuk menjalin komunikasi dan menjadi hubungan baik antarnegara. Padahal, sejak menjabat sebagai presiden, Prabowo sudah sering ke luar negeri untuk bertemu orang yang sama.
Tidak hanya itu, tanggal 27 Mei 2026 lalu, Prabowo Subianto juga meninggalkan Indonesia menuju Prancis. Ia berlabuh di Paris untuk bertemu dengan Presiden Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron atau disingkat dengan Emmanuel Macron. Katanya, untuk menjaga hubungan baik antarnegara.
Selain itu, Prabowo Subianto juga ikut melaksanakan salat Iduladha di Paris bersama diaspora di sana. Katanya, lagi, untuk menjalin silaturrahmi dengan diaspora di sana.
Menurut BBC News Indonesia tanggal 13 April 2026, tercatat Prabowo sudah melakukan kunjungan luar negeri sebanyak 49 kali. Dari 49 kali kunjungan ini, ada yang didatangi lebih dari satu kali. Kunjungan yang mencakup 28 negara berbeda di kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Latin. Negara yang paling sering dikunjungi adalah Malaysia (5 kali), Uni Emirat Arab (4 kali), Amerika Serikat, Britania Raya, dan Mesir masing-masing (3 kali). Untuk akumulasi waktunya, seluruh agenda luar negeri ini telah menghabiskan waktu sekitar 95 hari, termasuk masa tempuh penerbangan.
Ini rekor sekali. Mengalahkan jumlah lawatan presiden sebelumnya. Hal ini membuat tanda tanya bagi rakyat Indonesia. Prabowo ngapain sering-sering ke luar negeri? Nambah utang? Ini yang ada di pikiran kita jika tidak bisa memahaminya. Namun, kali ini, kunjungan terakhir ini seperti mendadak dan mendesak, hingga harus salat iduladha di Paris. Padahal, Indonesia juga sedang merayakan iduladha juga.
Hal tersebutlah yang membuat kita menyayangkan ide-ide Prabowo ini. Di tengah kondisi Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Namun, tetap saja narasi “sok kuat” dari presiden menyatakan bahwa ekonomi kita kuat, ekonomi kita stabil, rupiah masih stabil, dan lain sebagainya. Pernyataan itu seolah-olah memberikan angin segar, tapi anginnya tidak terasa hingga ke kulit. Hanya sebatas omongan saja. Tapi, efeknya tidak terlihat.
Narasi “sok kuat” ini dibuktikan sendiri oleh Prabowo dengan sering ke luar negeri dengan memakai uang negara. Padahal, jika ditelaah, baik anggaran negara atau pribadi pun, lebih baik disalurkan ke program yang sedang dijalankan lalu mengevaluasi kembali program-program yang mubazir.
Jika Prabowo berpikir untuk berhemat, bisa saja dia mengurangi perjalanan ke luar negeri. Zaman sudah canggih, semuanya bisa dilakukan dengan comference jarak jauh. Saat ini, tidak ada lagi kata tidak sopan untuk berhubungan jarak jauh seperti ini. Semuanya sudah legal dan dianggap sopan, jika itu hanya sebatas menjaga hubungan baik antarnegara.
Lalu, bagaimana dengan narasi “Presiden Jalan-jalan”? Sudah wajar. Narasi itu sudah wajar, sebab melihat banyaknya kunjungan luar negeri Prabowo, siapa yang tidak menganggap dia pergi jalan-jalan. Lalu, berfoto seolah-olah membuktikan Indonesia disegani di luar negeri. Toh, zaman Pak Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo juga tetap disegani tanpa banyak berkeliaran ke luar negeri.
Kesimpulannya, sebaiknya, Presiden Prabowo Subianto bisa mengurangi lawatan ke luar negerinya mulai hari ini. Sebab, krisis ekonomi di Indonesia sudah mencapai titik krisis yang parah. Inflasi di mana-mana menekan harga bahan pokok dan beberapa barang yang memang sangat dibutuhkan orang banyak. Lalu, kurangi program-program mubazir, seperti penambahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Kita sudah punya BUMDes, sebaiknya maksimalkan itu. Fokus pada menguatkan rupiah dan menyimpan stok energi dalam negeri. Ini akan lebih baik.

Ditulis oleh:
Martha Syaflina, S.E., CAHR, pimpinan redaksi media MZK News. Lulusan Sarjana Ekonomi Akuntansi Universitas Bung Hatta. Saat ini, menjadi pengamat ekonomi dan pelatih jurnalistik di Sekolah Wartawan MZK Institute.
Editor: Khoirul Anam

