Kemenkes Gelar Webinar, dr. Prima: PD3I Masih Mengancam Dunia

Foto: Pemateri Webinar sedang menjelaskan materi (Foto: IST)

Jakarta, MZK News – Kementrian Kesehatan, menyelenggarakan kegiatan webinar melalui Zoom tentang PD3I /penyakit campak pada Jumat (20/01/23) pukul 16.00 WIB dengan Narasumber, dr. Prima Yosephine, yang merupakan seorang Direktur bagian Kesehatan di Kemkes.

dr. Prima Yosephine menyampaikan, saat ini PD3I (polio, hepatitis B, pertusis, difteri, haemophilus influenza, campak dan tetanus) masih mengancam dunia. Kalau Imunisasi dilakukan dengan baik dan cakupannya cukup tinggi, maka dapat menekan angka kematian 2-3 juta setiap tahunnya yang diakibatkan oleh PD3I tadi seperti campak, difteri, tetanus, influenza. Saat ini sudah ada banyak vaksin mencegah lebih dari 20 jenis penyakit.

“Indonesia mengendalikan eliminasi campak direncanakan tahun ini, dimana kita bisa menekan penyakit ini agar tidak menjadi masalah di negara kita lagi. Tapi dengan adanya kenaikan campak di negara kita, agak sulit kita untuk merealisasikannya,” ucap dr. Prima.

Ia pun menjelaskan, ciri-ciri campak seperti demam, batuk pilek, cacar air, timbul bintik-bintik merah, disebabkan oleh virus campak dan ditularkan melalui droplet, percikan ludah saat batuk. Campak sangat cepat menular, pada hari ke- 4 sebelum dan sesudah timbulnya bintik-bintik.

“Yang dikawatirkan dari campak ini adalah komplikasinya, komplikasinya umumnya berat, misalkan bila anak bergizi buruk, dapat terkena, diare phnemonia, radang otak. Campak menularnya sangat cepat, bila seorang anak tertular maka akan jatuh kepada kondisi lebih berat bahkan kematian,” jelas dr. Prima.

Lebih lanjut, dia mengatakan, imunisasi adalah solusi untuk mengatasi campak. Kondisi di Indonesia selama 2 tahun terakhir, sejak terdampak covid, tahun kedua pada tahun 2021 melonjak saat virus delta ada. Tahun 2022 terjadi peningkatan kasus campak di 12 propinsi. Pemerintah daerah menyatakan kejadian luar biasa (KLB) ada paling sedikit ada 2 kasus campak yang sudah dikonfirmasi dari laboratorium. Terkonfirmasi 3341 kasus dari laboratorium di 23 kabupaten kota, 31 propinsi. Bergantian terjadi ledakan kasus ini. Keadaan 2022 meningkat dibanding 2021 karena tahun 2020-2021 layanan imunisasi belum maksimal sehingga anak-anak yang belum diimunisasi mudah tertular hingga terjadi kejadian luar biasa(KLB).

”Saya meminta, apabila masyarakat menemukan suspek campak/rubella di tengah masyarakat, untuk dapat segera melaporkan agar dapat ditangani segera, pemerintah akan meningkatkan imunisasi rutin, yang mana imunisasi akan dilakukan selama 3 kali yaitu pada saat anak masih masih usia 18 bulan dan kelas 1 SD,” pinta dr. Prima.

Ia pun mengatakan, Kementrian Kesehatan bekerjasama dengan Kementrian Agama, Mendagri mengeluarkan KLB Imunisasi SD menjadi kegiatan rutin dan harus difasilitasi oleh sekolah. Penguatan gerakan masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap kharismatik untuk datang ke tempat-tempat imunisasi. Campak merupakan penyakit yang sangat cepat menularnya dan dapat dicegah dengan imunisasi, menggerakkan para ibu untuk membawa anak-anaknya diimunisasi.

Reporter: Djuli

Editor: Khoirul Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *