FEATUREDNasionalNewsTOP STORIES

Terima ICRP, Menag Nasaruddin Umar Ajak Rumah Ibadah Jadi Ruang Pelayanan Kemanusiaan

Jakarta, MZK News – Kementerian Agama terus mendorong optimalisasi peran tempat ibadah di Indonesia agar tidak sekadar menjadi lokasi ritual keagamaan statis. Rumah ibadah ke depan diharapkan mampu bertransformasi menjadi pusat pelayanan sosial yang inklusif bagi masyarakat luas.

Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa rumah ibadah lintas iman memiliki potensi besar dalam memperkuat kohesi sosial. Di tempat tersebut, umat dapat menghadirkan kepedulian nyata sekaligus ruang perjumpaan yang hangat bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

“Semua rumah ibadah juga bisa menjadi rumah besar untuk kemanusiaan,” ujar Menag Nasaruddin Umar saat menerima audiensi pengurus Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Menag mencontohkan aksi nyata berupa pembukaan ribuan masjid sebagai tempat singgah bagi pemudik saat momentum mudik Natal maupun Lebaran. Di sana, masyarakat dari berbagai latar belakang bisa beristirahat, mengisi daya ponsel, hingga mendapatkan makanan ringan secara gratis.

Menurut Menag, praktik pelayanan universal seperti itu dapat melatih masyarakat untuk semakin terbiasa hidup berdampingan secara damai. Ketika sebuah rumah ibadah hadir tulus melayani siapa pun tanpa memandang latar belakang, sekat-sekat sosial di masyarakat perlahan akan runtuh.

“Jadi, mengajak masyarakat kita tidak menganggap asing orang yang berbeda agama dengan kita,” kata Menag menambahkan esensi dari gerakan toleransi berbasis pelayanan tersebut.

Nasaruddin Umar juga mengingatkan bahwa kerja-kerja merawat kerukunan harus dijalankan secara bijak, santun, dan menggunakan pendekatan yang menyejukkan. Ia mengimbau agar para penggerak toleransi menghindari cara-cara keras atau konfrontatif yang justru memperlebar jarak emosional di tengah publik.

Oleh karena itu, Menag menyambut baik konsistensi ICRP yang terus membangun jembatan komunikasi antarumat beragama di tanah air. Kehadiran organisasi nirlaba ini dinilai sangat strategis dalam mempertemukan para cendekiawan lintas iman untuk duduk bersama merumuskan solusi perdamaian.

“Kalau cendekiawannya sudah menyatu, otomatis yang lainnya paling tidak lebih mudah untuk dijembatani satu sama lain,” ucap Menag optimis mengenai pentingnya sinergi para tokoh agama.

Merespons arahan tersebut, perwakilan ICRP memaparkan sejumlah program strategis, termasuk pengembangan media komunikasi digital melalui kanal CRP TV. Platform ini sengaja dihadirkan untuk menyebarluaskan narasi keberagaman dan menampilkan wajah sejuk para tokoh lintas agama.

Selain media digital, ICRP juga mematangkan rencana penyelenggaraan Festival Toleransi yang dijadwalkan bertepatan dengan Hari Perdamaian Internasional pada 21 September mendatang. Agenda ini diharapkan menjadi wadah selebrasi keberagaman budaya dan keyakinan yang ada di Indonesia.

Menag merespons positif gagasan festival tersebut dengan catatan agar kampanye yang diusung tetap menjaga etika penyampaian. Gerakan yang membawa misi mulia perdamaian tidak boleh terjebak dalam ujaran yang merendahkan atau menyudutkan kelompok lain.

Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Kemenag RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *