Kejar Target Pertumbuhan 8 Persen, Menko Airlangga Hartarto Desak Penguatan Ekonomi Daerah
Jakarta, MZK News – Pemerintah terus memperkuat sinergi segitiga antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan sektor jasa keuangan. Kolaborasi makro ini dirancang untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap berjalan inklusif serta berkelanjutan.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung, pengembangan ekonomi di tingkat regional dinilai menjadi jangkar pengaman. Optimalisasi potensi lokal menjadi kunci penting dalam memperkuat daya tahan ekonomi nasional sekaligus mendorong pemerataan kesejahteraan antarwilayah.
“Kita memiliki target besar menuju pertumbuhan ekonomi 8%. Untuk mencapai target tersebut, daerah harus terus didorong karena pertumbuhan nasional pada dasarnya merupakan agregasi dari pertumbuhan daerah,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, Senin (25/5/2026).
Pernyataan strategis tersebut disampaikannya dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta. Agenda tahunan kali ini mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor”.
Airlangga menjelaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap berada pada posisi solid dan tangguh. Indikator positif ini terlihat jelas baik dari sisi kinerja korporasi domestik maupun stabilitas makroekonomi secara umum.
Hingga kuartal pertama tahun ini, angka inflasi nasional sukses dijaga ketat pada level 2,4% dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang terkendali di kisaran 2,6%. Catatan rapor keuangan ini dinilai jauh lebih baik dibandingkan beberapa periode tekanan ekonomi global sebelumnya.
Guna menjaga tren positif tersebut, Pemerintah konsisten memperkuat sektor UMKM sebagai penopang utama perputaran uang di daerah. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan pagu fantastis sekitar Rp300 triliun disiapkan untuk mendongkrak kapasitas usaha mikro.
Intervensi modal ini terbukti efektif mendorong peningkatan kapasitas produksi UMKM hingga menyentuh angka 34%. Suntikan dana stimulus tersebut juga tercatat memberikan kontribusi riil terhadap kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di kisaran 18% hingga 27%.
Efektivitas penyaluran modal ini terus menunjukkan grafik yang menjanjikan dari bulan ke bulan. Tercatat hingga April 2026, realisasi penyaluran KUR telah menembus angka Rp111 triliun yang didistribusikan melalui berbagai skema pembiayaan perbankan.
Selain sektor konvensional, Pemerintah daerah juga dipacu untuk mempercepat adopsi ekosistem ekonomi digital. Saat ini, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan telah mencapai USD150 miliar dan diproyeksikan melonjak tajam hingga USD400 miliar pada tahun 2030.
Peluang ini akan semakin berlipat ganda jika integrasi ekonomi digital di kawasan ASEAN berjalan optimal. Jika pasar regional terintegrasi, potensi ekonomi digital ASEAN diklaim mampu menyentuh USD2 triliun, di mana Indonesia berpeluang meraup kue ekonomi sebesar USD600 miliar.
Tak hanya digitalisasi, lompatan besar juga disiapkan pada penguatan ekosistem industri teknologi tingkat tinggi melalui proyek semikonduktor nasional. Pemerintah membidik target ambisius untuk melatih 15 ribu talenta semikonduktor dalam tiga tahun ke depan.
Sebagai langkah awal, sebanyak seribu peserta terpilih telah memulai pelatihan intensif dari total 4.500 pelamar yang mendaftar. Bersamaan dengan penyiapan SDM, pemerintah juga mendorong wilayah yang kaya akan cadangan silika untuk segera memulai proyek hilirisasi.
Konferensi tingkat tinggi ini turut dihadiri oleh pimpinan Komisi XI DPR RI, Dewan Komisioner OJK, Wakil Menteri Keuangan, dan Wakil Menteri Dalam Negeri. Hadir pula Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, para Gubernur, serta jajaran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) se-Indonesia.
Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Kemenko Perekonomian

