ArtikelFEATUREDTajukTOP STORIES

Filter Bubble: Belenggu Ruang Publik Kita

Ruang publik hari bukan lagi ditentukan oleh apa yang sebenarnya ingin kita tuju dan kita butuhkan. Saat ini, ruang publik tergantung apa yang algoritma inginkan atau baca. Hal ini membuat pemikiran banyak pengguna digital merasa terbelenggu dan menutup masukan-masukan serta mengembargo hasil-hasil pemikiran lain yang masuk ke mereka.

Dibalik kemudahan dan kenyamanan teknologi hari ini, ada hal yang harus dibayarkan pengguna, yaitu mengikuti filter bubble (gelembung penyaring). Gelembung penyaring ini akan menyaring semua informasi yang sering dibutuhkan atau diklik oleh pengguna sehingga akan muncul hal-hal itu saja secara terus-menerus.

Secara tidak langsung filter bubble melalui teknologi Artificial Intelligence/AI atau Kecerdasan Buatan sudah mengurung kita dengan informasi bertema sama setiap harinya. Mereka memunculkan hal-hal yang sering dibuka dan dibaca oleh pengguna. Seolah-olah, kecerdasan buatan ini mendikte asupan informasi harian kita berdasarkan rekam jejak klik, lokasi, dan preferensi personal. Ini bisa dilakukan algoritma tanda harus izin pengguna.

Hasilnya, dengan diberikan asupan yang sama setiap hari, ruang publik dan ruang pikir pengguna menjadi terkontrol dan terpusat. Otak akan menutup pendapat lain atau tema-tema lain yang seharusnya kita butuhkan untuk menjadi bahan analisa dan pertimbangan kita. Dengan adanya perbedaan pandangan, akan membentuk pemikiran kritis dan hasil pemikiran baru. Namun, itu semua sudah ditutup oleh kecerdasan buatan melalui algoritma.

Sesuai dengan peringatan Wakil Kementerian Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, bahwa  hidup kita dimediasi platform digital isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber dalam berita “Wamenkomdigi Nezar Patria Ingatkan Bahaya Penjajahan Gaya Baru Lewat Dominasi Algoritma“.

Memang benar! Algoritma sudah membaca semua yang kita sukai, sehingga kecerdasan buatan selalu menyuguhkan hal itu-itu saja ke hadapan layar pintar kita. Ini sangat berbahaya untuk anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa sekalipun. Mereka akan menutup ruang publik mereka sendiri, bahkan mereka hanya membenarkan pendapat mereka sendiri tanpa mendengarkan sudut pandang lain.

Pada akhirnya, efek samping dari filter bubble adalah masyarakat akan terpolarisasi, terkotak-kotak, bahkan terjebak dalam kultus kebenaran tunggal. Mereka menutup semua pendapat dan sudut pandang lain masuk ke kelompoknya, sehingga berujung saling adu pendapat tanpa ada dasar yang jelas. Bukan melahirkan pola kritis positif tapi pola kritis negatif. Mereka berpikiran, yang tidak suka dengan pendapat mereka, berarti bukan kelompok mereka.

Kita tidak boleh tinggal diam menjadi konsumen pasif yang didikte oleh baris-baris kode korporasi teknologi. Tanggung jawab ini berada di dua sisi. Pertama, para raksasa teknologi harus didorong untuk lebih transparan dan bertanggung jawab atas desain algoritma mereka yang cenderung memecah belah demi mengejar engagement. Kedua, sebagai pengguna, kita wajib membangun literasi digital yang kritis. Menembus gelembung digital ini harus dimulai secara mandiri: sengaja mencari opini yang berbeda, membersihkan riwayat pencarian secara berkala, dan merawat nalar kritis agar tidak tersesat dalam kenyamanan semu dunia digital.

Ditulis oleh:
Martha Syaflina, S.E., CAHR, pimpinan redaksi media MZK News. Lulusan Sarjana Ekonomi Akuntansi Universitas Bung Hatta. Saat ini, menjadi pengamat ekonomi dan pelatih jurnalistik di Sekolah Wartawan MZK Institute.
Editor: Khoirul Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *