FEATUREDInternasionalNasionalNewsTOP STORIES

Gandeng Dubes Tiongkok, Menteri Iftitah Sulaiman Jajaki Investasi di Kawasan Transmigrasi

Jakarta, MZK News – Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, bersiap mendampingi Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Wang Lutong. Keduanya dijadwalkan melakukan kunjungan kerja maraton ke sejumlah kawasan transmigrasi strategis nasional, Senin (1/6/2026).

Rangkaian kunjungan ini akan berfokus di wilayah Papua Selatan, Papua Barat Daya, Maluku Utara, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Agenda tersebut dirancang untuk menjajaki peluang kerja sama bilateral di sektor ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, pendidikan vokasi, investasi, serta pariwisata.

Menteri Iftitah menjelaskan bahwa langkah ini merupakan terobosan konkret untuk mengenalkan potensi wilayah transmigrasi ke panggung internasional. Kolaborasi dengan Tiongkok diharapkan mampu mempercepat pembangunan infrastruktur dan mendongkrak perekonomian lokal.

“Kawasan transmigrasi memiliki lahan, sumber daya manusia, dan potensi ekonomi yang sangat besar. Yang kami bangun bukan sekadar kawasan permukiman, tetapi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Iftitah Sulaiman dalam keterangan resminya.

Destinasi pertama yang akan ditinjau adalah Kawasan Transmigrasi Salor di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Wilayah yang kini menjadi bagian penting dari Ibu Kota Provinsi Papua Selatan ini memiliki hamparan sawah seluas 60 ribu hektare sebagai penopang swasembada pangan.

Di Salor, kedua pihak akan melihat langsung lokasi rencana proyek hibah dari Pemerintah Tiongkok. Proyek strategis tersebut meliputi pembangunan Pusat Pengembangan dan Riset Padi, Sekolah Vokasi Pertanian, serta Pusat Pengentasan Kemiskinan berbasis teknologi pertanian.

Setelah dari Papua Selatan, rombongan bertolak menuju kawasan transmigrasi di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Fokus peninjauan di pulau wisata ini adalah mengoptimalkan promosi potensi destinasi lokal guna menarik kantong pasar wisatawan asal Tiongkok yang dikenal sangat besar.

Perjalanan dinas kemudian berlanjut ke Halmahera Utara, Maluku Utara, untuk membedah hilirisasi industri komoditas kelapa. Langkah taktis ini dibidik untuk membuka keran ekspor langsung hasil olahan kelapa milik transmigran lokal menuju pasar utama di Tiongkok.

Titik akhir kunjungan kerja ini akan ditutup di kawasan transmigrasi Manggarai Barat, NTT. Selain memetakan peluang investasi agribisnis, agenda ini dimanfaatkan secara optimal untuk mempromosikan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata premium unggulan Indonesia.

Menteri Transmigrasi menegaskan, seluruh komitmen kerja sama internasional yang akan disepakati wajib mengedepankan asas keadilan bagi masyarakat setempat. Nilai investasi yang masuk tidak boleh hanya menguntungkan pihak korporasi, melainkan harus menyerap tenaga kerja lokal.

“Bagi kami, ukuran keberhasilan investasi bukan hanya berapa besar modal yang masuk, tetapi berapa banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya. Investasi harus menghadirkan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan,” kata Iftitah dengan tegas.

Pemerintah saat ini tengah mengarsiteki transformasi transmigrasi agar lebih produktif, berdaya saing, dan terkoneksi dengan pasar global. Iftitah menyebut pihaknya sangat selektif dalam menyaring mitra kerja sama internasional demi menjaga kedaulatan ekonomi negara.

“Kami tidak sedang mencari investor untuk kawasan transmigrasi. Kami sedang mencari mitra yang mau tumbuh bersama masyarakat. Karena tujuan akhir dari seluruh pembangunan ini adalah kesejahteraan untuk semua,” pungkas Iftitah mengakhiri penjelasannya.

Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Kementrans RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *