Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Respons Menag Soal Eks HTI dan FPI

Foto: Wakil Katib Syuriah PWNU DKI, Taufiq Damas-Sumber Foto: bekasi.pikiran-rakyat.com (Foto: IST)

Jakarta, MZK News – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa kondisi kebangsaan di Indonesia saat ini semakin tidak mudah. Kelompok-kelompok yang menggunakan agama sebagai alat masih bergerak untuk meraih kepentingannya.

“Meski kita mampu membubarkan HTI dan FPI bersama pemerintah, tapi mereka masih berkeliaran di bawah tanah dan bergerak dengan cara mereka,” ujar Ketua Umum GP Ansor itu dalam pembukaan Konferensi Besar XXV GP Ansor di Kalimantan Selatan, Rabu, (30/3).

Menanggapi hal tersebut, Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta Taufik Damas memandang kapasitas Yaqut Cholil Qoumas saat itu sebagai Ketua Umum GP Ansor yang berbicara dalam Konferensi Besar XXV GP Ansor di Kalimantan Selatan, bukan sebagai Menteri Agama. Pernyataan itu disampaikan di internal organisasi.

“Pernyataan itu kan disampaikan dalam forum internal, artinya kapasitas beliau ketika ngomong itu sebagai Ketua Umum GP Ansor, bukan sebagai Menteri Agama,” ujar Taufik dalam diskusi #Safari24 Total Politik dengan tema “Benarkah FPI dan HTI Masih Bergerak di Bawah Tanah’ di Perpustakaan Freedom, Jakarta Selatan, (5/4) seperti dilansir dari rilis pers Total Politik.

Menurut Taufik, kewaspadaan harus memberikan pencerahan dan pemahaman soal keagamaan dan kebangsaan sehingga tidak selalu dibentur-benturkan di tengah masyarakat.

“Cara berpikir keagamaan dan kebangsaan harus selalu kita asah kemudian didiskusikan menjadi cara berpikir bagaimana menemukan paham keagamaan yang sejalan,” ujarnya.

Taufik menekankan kewaspadaan diperlukan dalam konteks pendidikan sehingga tidak perlu dibenturkan.

“Kewaspadaan ini dalam konteks mendidik orang, jadi tidak perlu berhadap-hadapan. Karena cara berpikir orang itu tidak bisa dilarang,” ujarnya.

Dalam diskusi ini hadir narasumber seperti Habib Ali Alatas dari Front Persaudaraan Islam, Adi Prayitno dari UIN Jakarta dan Direktur Riset Setara Institute Halili Hasan.

Reporter: Budhi Haryadi

Editor: Khoirul Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.