
Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, Menko Airlangga Hartarto Ungkap Kunci Sukses Fiskal
Jakarta, MZK News – Ketangguhan perekonomian Indonesia kembali teruji di tengah fluktuasi pasar finansial dan dinamika geoekonomi global yang tidak menentu. Langkah taktis pemerintah dalam mengombinasikan kebijakan fiskal terbukti ampuh menjaga iklim pertumbuhan domestik tetap berada di jalur positif.
Pada triwulan I tahun 2026, performa ekonomi Indonesia sukses mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy). Lonjakan ini ditopang oleh tingginya tingkat konsumsi rumah tangga, percepatan belanja modal pemerintah, serta pemulihan masif di sektor industri manufaktur.
Indikator makroekonomi makro juga memperlihatkan draf stabilitas yang sehat dengan tingkat inflasi yang terkendali pada level 3,08% (yoy). Selain itu, neraca perdagangan mencetak rekor surplus selama 72 bulan berturut-turut, diiringi cadangan devisa kuat sebesar USD144,9 miliar.
“Pemerintah terus menerapkan kebijakan fiskal yang prudent namun tetap bersifat countercyclical guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Reformasi subsidi juga terus dilanjutkan melalui peningkatan ketepatan sasaran penerima manfaat,” tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Pernyataan tersebut disampaikan Menko Airlangga saat hadir secara virtual dalam acara peluncuran laporan World Bank Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Juni 2026, Kamis (11/6/2026). Dirinya menambahkan bahwa realisasi investasi triwulan pertama telah menyentuh angka Rp498,79 triliun.
Masuknya modal asing ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja baru sebanyak 706.569 orang atau melonjak 18,93% (yoy). Sektor hilirisasi komoditas dan ekspansi perusahaan hyperscaler global menjadi primadona baru yang memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat data center regional.
Guna membentengi sektor eksternal, pemerintah menerapkan aturan retensi 100% devisa hasil ekspor (DHE) nonmigas di dalam negeri selama 12 bulan. Kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga diperkuat untuk memperluas implementasi transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT).
Menatap masa depan, kabinet optimistis momentum penguatan ini akan terus terjaga hingga tahun depan. Kerangka ekonomi makro tahun 2026 menargetkan pertumbuhan sebesar 5,4% yang diselaraskan dengan draf program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto di sektor energi dan pangan.
Sementara untuk tahun 2027, pemerintah memasang target pertumbuhan yang lebih agresif pada kisaran 5,8 hingga 6,5%. Dalam Sidang Paripurna DPR, Presiden Prabowo menegaskan komitmen untuk menjaga defisit anggaran tetap disiplin di bawah batas aman 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, Pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah. Langkah-langkah awal meliputi penyederhanaan persetujuan impor, standardisasi perizinan usaha, dan percepatan proyek investasi strategis,” ungkap Menko Airlangga.
Di panggung perdagangan internasional, Indonesia gencar memperluas akses pasar nontradisional melalui skema Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Kemitraan strategis dengan Uni Eropa, Kanada, hingga proses aksesi OECD terus dikebut untuk meminimalkan risiko hambatan tarif global.
Menutup arahannya, Menko Airlangga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Bank Dunia atas draf analisis yang tertuang dalam laporan IEP terbaru. Rekomendasi tersebut akan dijadikan rujukan penting dalam merumuskan reformasi struktural demi mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.
Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Kemenko Perekonomian RI
