FEATUREDNasionalNewsTOP STORIES

Gandeng ATRC UAE di Bali, Kemenko Pangan Gunakan Teknologi AI untuk Pantau Mangrove Nasional

Bali, MZK News – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan terus memperluas pemanfaatan teknologi modern demi menjaga kelestarian lingkungan. Langkah taktis ini diwujudkan dengan memperkuat kerja sama strategis bersama Advance Technology Research Council (ATRC) Uni Emirat Arab (UAE).

Kemitraan internasional tersebut berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk mendukung restorasi dan konservasi hutan mangrove nasional. Kerja sama ini diresmikan melalui pelaksanaan Leadership Meeting dan pemarafan Letter of Intent (LoI) yang digelar di Bali, Jumat (5/6/2026).

Kolaborasi lintas negara ini mengedepankan inovasi pengelolaan mangrove berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Integrasi AI diharapkan mampu menghasilkan solusi akurat untuk perlindungan pesisir, peningkatan ekonomi warga, serta pencapaian target iklim global.

Momen ini juga menjadi tonggak sejarah penting yang menandai 50 tahun hubungan bilateral antara Indonesia dan UAE. Kedua negara sepakat untuk mempererat kemitraan strategis, khususnya di bidang inovasi teknologi dan mitigasi dampak perubahan iklim.

Indonesia sendiri merupakan rumah bagi sekitar 3,4 juta hektare hutan mangrove, atau setara dengan 20 persen dari total ekosistem mangrove dunia. Sebagai penyerap karbon alami paling efektif, tanaman pesisir ini memegang peran krusial dalam menyokong target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

“Penguatan rehabilitasi dan sistem monitoring mangrove secara digital menjadi bagian penting dari strategi nasional pengendalian perubahan iklim. Langkah ini juga menjadi pilar utama pembangunan rendah karbon yang berorientasi pada ketahanan pangan masyarakat pesisir,” ujar perwakilan Kemenko Pangan.

Sebagai langkah awal, tim teknis dari kedua negara telah melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi potensial di Bali untuk memetakan proyek percontohan (pilot project). Pemerintah Indonesia juga mengusulkan Pulau Lusi di Sidoarjo dan kawasan pesisir Demak sebagai lokasi implementasi berikutnya.

Dalam pertemuan tersebut, pihak UAE mengusulkan metodologi Site Suitability Assessment dan Carbon Estimation. Pendekatan teknologi ini disiapkan untuk memperkuat sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) karbon guna membuka peluang pembiayaan iklim yang kredibel.

Selain keunggulan teknologi, kerja sama ini juga memprioritaskan penguatan kapasitas masyarakat lokal secara intensif. Warga pesisir akan dilatih menggunakan sistem monitoring berbasis digital agar mampu melakukan pengumpulan data lapangan secara partisipatif dan mandiri.

Penandatanganan LoI ini optimistis dapat menghadirkan model tata kelola hutan bakau yang adaptif dan berbasis data akurat. Sebagai sesama inisiator Mangrove Alliance for Climate (MAC), Indonesia dan UAE berkomitmen penuh menyukseskan agenda aksi iklim global demi masa depan lingkungan yang berkelanjutan.

Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Kemenko Pangan RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *