Dies Natalis ke-20 UBB, Wamenko Otto Hasibuan Dorong Penguatan Budaya Hukum di Bangka Belitung
Bangka, MZK News – Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Wamenko Kumham Imipas), Otto Hasibuan, menegaskan pentingnya penguatan karakter bangsa. Pendidikan dan kesadaran hukum dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul serta berintegritas.
Pernyataan strategis tersebut disampaikan Otto saat menjadi narasumber utama dalam Seminar Kebangsaan di Pulau Bangka. Agenda ilmiah ini digelar dalam rangka memperingati perayaan Dies Natalis ke-20 Universitas Bangka Belitung (UBB), Minggu (24/5/2026).
Acara khidmat ini mengusung tema “Reformasi Pendidikan dan Kesadaran Hukum Sebagai Fondasi Pembangunan Sumber Daya Manusia”. Jalannya seminar turut dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pejabat pemerintah daerah, serta ratusan civitas akademika UBB.
Dalam paparannya, Otto menyoroti kondisi sosiologis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dinilai memiliki paradoks tersendiri. Wilayah ini dikenal kaya akan komoditas sumber daya alam (SDA), namun belum diimbangi secara linier oleh tingkat penetrasi kualitas pendidikan masyarakat.
Menurut Otto, melimpahnya kekayaan sektor pertambangan tidak boleh membuat masyarakat lengah dan mengabaikan sektor pendidikan formal. Pola pikir instan harus segera diubah demi menyiapkan ketahanan ekonomi keluarga pasca-era kejayaan komoditas bumi berakhir.
“Bangka Belitung kaya akan sumber daya alam, tetapi pendidikan harus menjadi perhatian utama. Sumber daya alam suatu saat bisa habis, sedangkan pendidikan akan menjadi bekal yang terus memberikan manfaat bagi masa depan,” ujar Otto Hasibuan di hadapan mahasiswa.
Otto menambahkan bahwa keberhasilan di dunia profesional tidak hanya diukur berdasarkan indikator kecerdasan akademik semata. Mahasiswa dan generasi muda dituntut memiliki pola pikir visioner serta ketangguhan mental dalam menghadapi disrupsi zaman yang serbacepat.
Perguruan tinggi diharapkan tidak sekadar menjadi pabrik pencetak ijazah administratif formal. Kampus harus bertransformasi menjadi laboratorium kebudayaan yang mampu mendorong mahasiswa untuk berani mengambil peran dalam memajukan peradaban sosiologis masyarakat.
“Mahasiswa harus berpikir untuk memajukan peradaban. Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan investasi dengan manfaat jangka panjang yang nilainya jauh lebih besar bagi kehidupan,” kata Wamenko menambahkan argumennya.
Selain aspek edukasi, advokat senior ini juga menekankan urgensi pemulihan budaya hukum dan pemeliharaan tingkat kepercayaan publik (public trust). Kesadaran konstitusi yang kokoh menjadi prasyarat mutlak untuk menciptakan ruang kehidupan yang tertib, adil, dan saling menghormati.
Oleh karena itu, kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemda, akademisi kampus, dan elemen masyarakat harus terus dipelihara secara berkelanjutan. Sinergi ini krusial demi melahirkan generasi emas yang berdaya saing global tanpa kehilangan identitas hukum nasional.
“Yang paling utama adalah membangun kepercayaan. Dari situlah kemajuan pendidikan, hukum, dan pembangunan bangsa dapat berjalan dengan baik,” pungkas Otto Hasibuan dengan tegas menutup sesi seminarnya.
Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Kemenko Kumham Imipas

