Dukung Transformasi Sosial, PT Bukit Asam Pasok Mesin Jahit untuk Kelompok Tapis Melati
Bandar Lampung, MZK News – Suara ritmis mesin jahit kini terdengar lebih sering dan bertenaga di salah satu sudut Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung. Di balik bunyi konstan tersebut, ada jemari tangguh para perempuan yang tengah merajut masa depan baru di atas lembaran kain.
Wilayah yang sebelumnya populer dengan sebutan PMD atau Pemandangan ini lama lekat dengan stigma negatif sebagai kawasan lokalisasi. Namun, citra miring tersebut perlahan luruh berganti wajah berkat gerakan kemandirian ekonomi yang diinisiasi oleh masyarakat lokal sendiri.
Perubahan sosial ini digerakkan oleh sekitar 30 perempuan lokal yang terhimpun dalam komunitas perajin Kelompok Tapis Melati. Di wadah inilah mereka saling menguatkan, bertahan, dan pelan-pelan menemukan kembali kedaulatan ekonomi keluarga.
Melalui ketekunan yang tinggi, mereka memproduksi kain tapis yang merupakan wastra tradisional khas Lampung sarat nilai filosofi budaya. Bagi para perempuan ini, menenun kain tradisional bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang atau pemenuhan hobi.
Setiap helai benang emas yang disulam merupakan simbol perlawanan terhadap stigma serta perwujudan harapan akan kehidupan yang lebih bermartabat. Sayangnya, tekad besar kelompok ini sempat terbentur kendala klasik berupa keterbatasan alat produksi yang minim.
Akibat peralatan yang seadanya, proses menjahit terpaksa dilakukan secara bergantian sehingga memperlambat kapasitas produksi harian. Padahal, pesanan dan permintaan pasar mulai berdatangan seiring keikutsertaan mereka dalam berbagai ajang pameran UMKM.
Melihat kegigihan tersebut, PT Bukit Asam (Persero) Tbk melalui Unit Bukit Asam Tarahan Port hadir mengulurkan dukungan nyata. Perusahaan BUMN ini menyalurkan bantuan berupa empat unit mesin jahit modern untuk mempercepat akselerasi produksi kelompok.
Bagi jajaran pengurus Kelompok Tapis Melati, bantuan alat ini menjadi suntikan moral yang membuktikan bahwa perjuangan mereka diakui publik. Langkah ini juga selaras dengan komitmen emiten berkode PTBA tersebut dalam mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif berbasis komunitas.
“Kami melihat semangat perubahan yang tumbuh dari masyarakat, khususnya para perempuan, untuk bangkit dan membangun penghidupan yang lebih positif, produktif, dan bermartabat,” ujar Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, Selasa (26/5/2026).
Eko menegaskan, pemberdayaan berbasis kearifan lokal adalah kunci utama untuk memicu transformasi sosial yang inklusif di sekitar wilayah operasional perusahaan. Hilirisasi produk tapis diharapkan mampu menjaga kelestarian budaya sekaligus menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.
Kini, suasana di rumah produksi Kelompok Tapis Melati terasa jauh lebih hidup dan bergairah berkat operasional mesin-mesin baru. Fasilitas tersebut sukses memangkas waktu pembuatan kain tapis harian serta berbagai produk turunan kreatif lainnya.
Peningkatan kapasitas ini secara otomatis mendongkrak rasa percaya diri seluruh anggota kelompok untuk terus berinovasi menembus pasar luar daerah. Dari wilayah yang dulu dipandang sebelah mata, selembar demi selembar kain tapis kini menjelma menjadi jalan perubahan hidup yang nyata.
Reporter: Yogie Yolanda
Editor: Martha Syaflina

