Efek Domino Dari Naiknya Harga BBM Subsidi

Sumber Foto (http://Aboutmalang.com)

Oleh: Alvin Gumelar Hanevi, S.Pd

Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi pada Sabtu (3/9) pukul 14.30 WIB secara serentak.

Adapun jenis BBM yang naik yaitu Pertalite yang sebelumnya Rp. 7.650 per liter naik menjadi Rp. 10.000 per liter, kemudian Solar subsidi yang sebelumnya Rp. 5.150 per liter naik menjadi Rp. 6.800 per liter, adapun Pertamax yang sebelumnya Rp. 12.500 per liter naik menjadi Rp. 14.500 per liter.

Pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM subsidi karena subsidi untuk BBM sudah membengkak dan membebani APBN. Hal ini diperparah dengan penggunaan BBM subsidi hampir 80% dinikmati oleh golongan masyarakat menengah keatas. Padahal BBM subsidi diperuntukkan bagi golongan masyarakat menengah kebawah. Sebagai gantinya pemerintah melalui Kementerian Sosial akan memberikan Bansos untuk mengurangi beban masyarakat akibat naiknya harga BBM subsidi.

Kenaikkan harga BBM ditengah murahnya harga minyak dunia ini tentunya akan berdampak kepada naiknya harga barang/komoditas lainnya. Berikut ini dampak atau efek domino dari naiknya harga BBM subsidi adalah yaitu pertama menganggu sektor UMKM. Tak dipungkiri BBM menjadi alat penggerak bagi UMKM untuk menjalankan roda usaha. Kenaikan BBM akan berimbas kepada menurunnya omset para pelaku usaha khususnya UMKM. Kedua menyebabkan daya beli masyarakat menjadi menurun, hal ini disebabkan karena pendapatan masyarakat yang tidak sebanding dengan naiknya harga BBM subsidi menyebabkan beban pengeluaran masyarakat menjadi masif dan menghambat daya beli masyarakat. Ketiga naiknya harga barang pokok, untuk pendistribusian barang pokok memerlukan BBM subsidi agar mencapai daerah daerah pelosok, dengan kenaikan BBM subsidi otomatis akan berdampak kepada naiknya bahan pokok. Ketiga dampak tersebut jika dibiarkan terjadi akan menyebabkan inflasi bahkan hiperinflasi yang tidak diharapkan.

Menyoal kenaikkan harga BBM karena membebani APBN, mengutip dari Ekonom senior yaitu Rizal Ramli yang menyampaikan banyak cara atau solusi untuk mengatasi hal tersebut tanpa menaikkan BBM subsidi. Pertama pemerintah harus fokus untuk mengurangi hutang negara yang membengkak.

“Gimana caranya tidak menaikkan harga BBM? Pemerintah fokus mengurangi cicilan bunga & pokok utang, yang tahun ini 805T, 1/3 dari APBN, pos anggaran utama Jokowi!” Dikutip dari pikiran rakyat.com

Rizal Ramli juga menambahkan agar dilakukan debt-swap, termasuk debt-to-nature swap, cicilan bisa berkurang 1/4-nya (200T), BBM tidak perlu naik. Ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.