Panjat Pinang dan Kenangan Zaman Penjajahan Belanda

(Sumber Foto: http://ngopibareng.id)

Oleh: Alvin Gumelar Hanevi, S.Pd

Untuk memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya kita sering disuguhkan dengan berbagai aktraksi dan kegiatan yang menghibur. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan seperti lomba makan kerupuk, lomba balap kurung, dan lomba panjat pinang selalu menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat.

Dari berbagai kegiatan diatas lomba panjat pinang selalu menjadi primadona permainan yang selalu ditunggu-tunggu. Hal tersebut bukan tanpa sebab karena memang panjat pinang ini dibutuhkan kerja sama untuk mendapatkan hadiah yang berada du puncak batang pinang tersebut.

Keseruan dan keasikan lomba panjat pinang ternyata menyimpan cerita masa lalu yang sungguh kelam. Didalam buku karya Fandy Hutari yang berjudul “Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal” di sebutkan bahwa panjat pinang merupakan hiburan bagi orang Belanda, biasanya kegiatan ini bersamaan dengan hajatan besar yang dilakukan oleh orang-orang Belanda.

Menurut catatannya, kegiatan panjat pinang mulai dikenal sejak tahun 1930-an saat itu para pejabat Belanda, elit, dan tokoh-tokoh yang pro terhadap penjajahan Belanda tertawa dan terhibur dengan aksi panjat pinang yang dilakukan oleh orang-orang pribumi.

Hal senada juga diungkapkan didalam didalam buku Indonesia Poenja Tjerita yang mana penyunting ahli buku tersebut yaitu Roso Daras menegaskan bahwa kegiatan panjat pinang merupakan hiburan bagi orang orang Belanda. Pada saat itu orang Belanda tertawa sampai terbahak bahak melihat orang-orang pribumi bermain panjat pinang.

Walaupun penjelasan tersebut masih banyak dipertentangkan namun jika melihat dari segi kemanfaatan memang sangat jauh sekali dan cenderung menimbulkan kemudharatan. Orang-orang yang memanjat pinang harus sakit-sakitan badannya diinjak oleh teman-temannya yang berjuang untuk mendapatkan hadiah yang sedikit banyaknya tidak sebesar dampak kesehatan yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Adapun teman teman yang lain hanya tertawa melihat teman-temannya yang lain berjuang untuk memanjat pinang. Secara tidak sadar kita sedang mempraktekkan kembali sebuah kegiatan peninggalan kolonial Belanda tersebut. Dan lagi tak salah memang ungkapan bahwa “sejarah akan terus berulang”.

Walaupun panjat pinang sering dikaitkan dengan pengaplikasian nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong, namun hal tersebut tidak serta merta menjadi tolak ukur bahwa itu menjadi wujud dari terciptanya nilai-nilai kebersamaan dan perjuangan.

Banyak hal positif lainnya yang bisa dilakukan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia ini tanpa harus melaksanakan warisan Belanda yang terus menerus eksis hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.