Komitmen Presiden Jokowi Demi Perdamaian Dunia

Foto: (Sumber foto: auroranews.id)

Oleh: Alvin Gumelar Hanevi

Peace is the only battle worth waging” (Perdamaian adalah satu-satunya pertempuran yang layak untuk dilancarkan) ungkapan dari dari tokoh filsuf dunia yaitu Albert Camus selaras dengan apa yang dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang akan melakukan kunjungan ke negara yang sedang berkonflik yaitu Ukraina dan Rusia. Kunjungan akan dilaksanakan setelah Presiden Jokowi menghadiri KTT G7 di Jerman pada Minggu (26/6).

Sebagai Presidensi G20, Presiden Jokowi akan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyelesaikan konflik kemanusiaan yang terjadi di kedua negara tersebut. Kunjungan Presiden Jokowi patut diacungi jempol sekali pun penuh resiko. Patut diacungi jempol karena ini menyangkut soal keberanian Presiden Jokowi mengunjungi negara yang tengah mengalami krisis kemanusiaan. Hal ini menjadikan Presiden Jokowi menjadi pemimpin pertama asia yang mengunjungi Negara Ukraina dan Rusia pasca meletsusnya agresi yang dilakukan oleh Rusia. Sedangkan penuh resiko karena ini menyangkut soal keamanan Presiden Jokowi selama berada di kedua negara tersebut.

Melihat keberanian Presiden Jokowi untuk bertandang ke Ukraina dan Rusia sejatinya membawa misi khusus utuk menghentikan perperangan dan mencegah terjadinya krisis pangan dunia. Hal ini sejalan dengan tujuan Negara Indonesia yaitu untuk melaksanakan ketertiban dunia yang tercantum didalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Dalam upaya menghentikan perperangan antara Ukraina dan Rusia, Indonesia memiliki daya tawar yang sangat tinggi, sebagai negara yang dipercaya memegang tongkat presidensi G20 Indonesia diharapkan mampu mendorong kedua pemimpin (Zelensky-Putin) untuk membuka ruang dialog agar terjadi gencatan senjata di kedua negara. Presiden Jokowi harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam membujuk kedua negara tersebut agar tidak merugikan salah satu pihak yang tengah berkonflik tersebut.

Kehadiran Presiden Jokowi harus menjadi pelopor dalam membangun spirit perdamaian dan kemanusian. Misi perdamaian yang dibawa Presiden Jokowi tidak akan pernah terwujud jika negara lainnya tidak berperan aktif dalam menjaga perdamaian itu sendiri. Oleh karena itu baik Ukraina maupun Rusia harus menahan diri agar krisis kemanusiaan tidak terjadi lagi.

Penuh Resiko

Rencana kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia penuh resiko. Walaupun akan membawa 39 orang Paspampres namun tetap saja bahaya akan selalu mengintai orang nomor satu di Indonesia tersebut selama berada di Ukraina. Menurut Pengamat Militer Connie Rahakundini Bakrie ancaman yang akan menanti Presiden Jokowi selama di Ukraina bukan hanya dari darat tetapi juga bisa melalui udara dan juga cyber. Connie meyakini kemampuan 39 orang Paspampres yang akan akan menjaga keselamatan dan keamanan Presiden Jokowi selama di Ukraina, namun tetap harus diwanti-wanti karena ancaman bisa datang dari segala arah dan dari segala penjuru.

Kekhawatiran terhadap keamanan Presiden Jokowi selama di Ukraina bukan tanpa sebab karena memang sulit menjamin keamanan dan keselamatan selama perperangan berlangsung sekalipun itu seorang pemimpin negara. Oleh karena itu keberanian Presiden Jokowi harus diiringi dengan pengamanan yang ketat dan juga memastikan terjalinnya koordinasi antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintahan Ukraina dan Rusia agar keselamatan dan keamanan Presiden Jokowi selama di Ukraina tetap terjaga.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno L Marsudi harus menjalin komunikasi intens dengan pemerintahan Ukraina dan juga Rusia agar tidak melakukan tindakan yang akan mengancam keselamatan Presiden Jokowi selama di Ukraina. Selain itu Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa juga harus mengerahkan kemampuan relasi internasionalnya guna meminta dan meyakini militer negara di Ukraina dan Rusia untuk memastikan kemanan Presiden Jokowi selama berkunjung di negara tersebut.

Dengan adanya koordinasi dengan kedua negara (Ukraina-Rusia) tersebut diharapkan kunjungan Presiden Jokowi berjalan aman dan menghasilkan tujuan yang diharapkan yaitu perdamaian. Misi perdamaian yang dibawa Presiden Jokowi diharapkan dapat mengatasi krisis kemanusiaan dan krisis pangan yang akan mengancam dunia kedepannya.

Palestina dan Israel

Komitmen Presiden Jokowi terhadap perdamaian dunia diharapkan tidak hanya menyasar Ukraina dan Rusia, tetapi juga harus menyasar kepada negara-negara lainnya salah satunya Palestina dan Israel. Serangan brutal yang dilakukan tentara Israel terhadap masyarakat Palestina juga harus menjadi perhatian Presiden Jokowi. Indonesia bisa menjadi garda terdepan dalam mewujudkan perdamaian antara kedua negara tersebut. Hal tersebut bisa terwujud ketika pertemuan G20 di Indonesia yang akan dilaksanakan 15 November 2022. Indonesia yang menjadi Presidensi G20 harus mendorong 20 negara dengan ekonomi kuat tersebut untuk mengingatkan Israel untuk menghentikan agresi terhadap Palestina yang sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun.

Jika Presiden Jokowi berani mengunjungi Ukraina dan Rusia, maka hal yang sama seharusnya berlaku kepada Palestina dan Israel. Komitmen soal perdamaian dunia harus menjadi spirit yang mendorong Presiden Jokowi dan Pemerintah Indonesia untuk menciptakan perdamaian dikedua negara (Palestina-Israel).

Negara Palestina merupakan negara sahabat sekaligus mitra startegis Negara Indonesia. Konflik yang terjadi disana harus menjadi perhatian kita. Walaupun Indonesia tidak menjalin diplomasi dan kerjasama terhadap Israel bukan berarti Negara Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa. Pemerintah Indonesia diharapkan bisa mendorong negara-negara yang berada di G20 untuk menekan Israel guna mengehentikan agresi dan mengingatkan Dewan Keamanan PBB agar menjadi aktor global dalam menghentikan krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina dan Israel selain yang terjadi Ukraina dan Rusia.

Editor: Khoirul Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.