Ketua Umum PGLII Nyatakan Sikap Terkait Hukuman Muhammad Kece

Foto: Pengurus Pusat PGLII (Foto: IST)

Jakarta, MZK News – Ketua Umum Persekutuan Gereja dan Injili Indonesia (PGLII), Pdt. Ronny Mandang menyatakan sikap terkait hukuman pidana 10 tahun penjara yang dijatuhi hakim Pengadilan Ciami terhadap teroidana Muhammad Kece atas kasus penistaan agama.

Menurut Pdt. Ronny, hukuman yang menimpa Muhammad Kace jauh dari rasa ketidakadilan bila dibandingkan dengan hukuman Yahya Walaoni dan lainnya,

“Putusannya jauh dari keadilan karena tidak sesuai dengan ketentuan hukum di Indonesia dan telah menciderai perasaan umat Kristen atas perbedaan penerapan hukum terhadap terdakwa penodaan agama,” kata Ronny dalam jumpa persnya di Graha Karmel Ruko Permata Hijau Jakarta, Senin (10/4/2022).

Dia menjelaskan, UU PNPS No. 1 Tahun 1965 Pasal 2 menyebutkan bahwa seseorang pelecehan dan penodaan agama harus diberi peringatan terlebih dahulu.

“Putusan hakim PN Ciami benar- benar tidak adil dan terdakwa Muhammad Kece tidak diingatkan dulu,” jelasnya.

Dia menyebutkan, untuk kasus Muhammad Kace tidak diterapkan keadilan sama sekali, sementara terungkap dalam persidangan bahwa Muhammad Kace membuat video tersebut untuk mengcounter video – video pelecehan terhadap agama Kristen yang dilakukan Yahya Waloni, Abdul Somad, dan lainnya.

Putusan majelis hakim berdasarkan UU RI Nomor 1 Tahun 1946 Pasal 6, sambung Ronny, itu tidak tepat dan hakim harus diminta equel atau kesetaraan hukum.

“Kami meminta majelis hakim memberlakukan equel atau kesetaraan hukum terhadap semua warga negara dalam peradilan.” tegasnya.

Dalam jumpa pers, selain Ronny yang hadir, juga Sekreraris Umum Pdt. Tommy Lengkong, M.Th, sekaligus membacakan pernyataan sikap atas rasa ketidakadilan hukuman penodaan agama bagi umat Kristiani didampingi Sekretaris Majelis Pertimbangan PGLII Pdt. Ronny Sigarlaki, SH., dan Komisi Hukum PGLII Arnold Hasudungan Manurung, S.H., M.H.

Reporter: Denny Zakhirsyah

Editor: M Habe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.