Penyelesaian Konflik Desa Kusik Batu Lapu dengan PT FAPE

Foto: Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh Ketapang, Alexander Wilyo saat penancapan tugu perjanjian (Foto: IST)

Ketapang, MZK News – Konflik Masyarakat Adat Kusik Batu Lapu dengan PT FAPE telah diselesaikan secara adat. Penyelesaian konflik tersebut dipimpin oleh Alexander Wilyo, Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang yang diberi gelar oleh Masyarakat Adat Dayak Kabupaten Ketapang sebagai Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik di Rumah Adat Dayak Dusun Kusik Bulin, Desa Kusik Batu Lapu, Kecamatan Jelai Hulu, Ketapang.

Acara diawali dengan gelar perkara adat dan diakhiri dengan penancapan tugu perjanjian antar PT FAPE dengan masyarakat adat.

Dalam gelar perkara adat tersebut semua pihak yang bersalah dihukum adat, tak terkecuali seorang warga yang terbukti terlibat dalam kasus pencurian buah kelapa sawit pun dihukum adat juga.

Gelar perkara adatnya sendiri dipimpin oleh Cendaga Tali Waris Bapak Jubertus, Demong Adat Kecamatan Jelai Hulu didampingi Ketua DAD Kecamatan Jelai Hulu, Bapak Mulyadi.

Ketua Dewan Adat Dayak Jelai Hulu, Mulyadi berharap agar Hukum Adat semakin mempunyai kewibawaan serta dijunjung tinggi oleh masyarakat adat.

“Kita berharap peristiwa tersebut menandai suatu kebangkitan untuk menegakkan otoritas dan kewibawaan hukum adat Masyarakat Adat Dayak pada umumnya dan Masyarakat Adat Dayak Jalai secara khusus,” sebutnya, Sabtu (26/3/2022).

Dia menambahkan bahwa penancapan tugu bertujuan agar perjanjian ini serius dipegang teguh oleh kedua belah pihak.

“Penancapan tugu perjanjian merupakan bentuk keseriusan kita dalam mematuhi kesepakatan dan perjanjian bersama, bukan sebuah ritual yang main-main. Pihak mana pun yang melanggar, maka tugu perjanjian akan mengingatkan kita semua,” tegasnya.

Menurut Mulyadi, Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh sendiri adalah sebagai tokoh utama yang menjadi ikonnya.

“Beliau lah yang memberi inspirasi kepada semua orang Dayak untuk berkomitmen terhadap identitas dan jati diri orang Dayak,” ujarnya.

Pada saat pelaksanaan penancapan tugu perdamaian, Mulyadi menambahkan, Patih tidak mengandalkan kekuatan dirinya sendiri.

“Beliau memohon kepada Duata Perimbang Alam Bumi dan kepada seluruh roh-roh kebenaran untuk membantu dan menguatkan permohonan beliau sebagai sebuah kekuatan untuk menjaga kampung halaman dari segala ancaman,” papar Muliadi.

Acara gelar perkara adat dan penancapan tugu perjanjian yang dipimpin oleh Patih Jaga Pati tersebut dihadiri pula oleh Forkopimcam Jelai Hulu, Ketua DAD Kecamatan Jelai Hulu beserta jajarannya, para Kepala Desa se-Kecamatan Jelai Hulu, pihak manajemen PT FAPE, para Demong Adat se-Kecamatan Jelai Hulu, serta Masyarakat Adat Desa Kusik Batu Lapu dan sekitarnya.

“Semoga dengan terjadinya penyelesaian masalah ini, kedua pihak bisa rukun,” pungkas Mulyadi.

Reporter: Jans/T.Tion

Editor: Khoirul Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.