Imlek Ketapang Tanpa Barongsai dan Tatung
Ketapang, MZK News – Mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir, warga etnis Tionghoa Kabupaten Ketapang merayakan imlek tahun 2022 hanya dengan memasang lampion di Klenteng Tua Pek Kong, di depan rumah warga yang merayakan, dan di sepanjang Jalan Merdeka tanpa adanya pertunjukan barongsai, tatung, dan lainnya.
Hal ini adalah upaya masyarakat etnis Tionghoa Ketapang dalam mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah dengan mengantisipasi terjadi potensi kerumunan.
Ketua DPD Majelis Adat Budaya Tionghoa Kabupaten Ketapang, Susilo Aheng menceriterakan, Lampion menjadi salah satu identitas kebudayaan Tionghoa yang sering kita lihat pada perayaan Tahun Baru Imlek setiap tahun.
“Lampion imlek punya sejarah tersendiri, pada zaman Dinasti Han Kuno pada tahun 25 hingga 220 Masehi diyakini memiliki arti pengharapan, keberuntungan, rezeki, kebahagiaan, dan kemakmuran bagi masyarakat etnis Tionghoa,” kisahnya pada Selasa, (01/02/2022).
Ditambahkannya, pada zaman itu lampion digunakan sebagai sumber cahaya di malam hari dan untuk mengusir serangga maupun binatang lainnya. Namun seiringnya berjalan waktu lampion tersebut kemudian digunakan oleh para biksu Buddha sebagai ritual ibadah.
“Sejak itulah, lampion menjadi identik dengan perayaan tahun baru Imlek yakni pada masa Dinasti Tang pada 618 – 907 Masehi,” paparnya.
Aheng juga menjelaskan, Lampion, selain dibuat sebagai ornamen untuk memeriahkan acara imlek sekaligus sebagai simbol kebanggaan budaya masyarakat China. Tak hanya diyakini memiliki arti pengharapan, keberuntungan, rezeki, kebahagiaan, dan kemakmuran, ia juga diyakini
sebagai pengusir roh jahat.
“Kepercayaan akan mengusir roh jahat tersebut masih bertahan secara turun temurun hingga saat ini,” pungkasnya.
Reporter: Jans
Editor: Khoirul Anam

