FeatureFEATUREDNewsTOP STORIES

(Feature) Masih Adakah PPKM Saat Ini?

Foto: Suasana KRL Yogyakarta-Solo Balapan, Sabtu, 8/01/2022. (Foto: Khoirul Anam)

Pemandangan yang selalu menyita perhatian bagi siapapun orang yang melihat. Pasalnya, dalam rangka menegakkan Protokol Kesehatan demi pemutusan rantai Covid-19, semua tempat pelayanan, baik tempat umum, tempat wisata, bahkan angkutan umum membuat peraturan masing-masing.

Dengan adanya peraturan tersebut tentunya bertujuan baik, yaitu untuk keselamatan bersama, namun, pada hari ini, Sabtu, 08/01/2022, saya melihat pemandangan yang kurang enak di dalam KRL Yogyakarta-Solo Balapan.

Peraturan yang ditetapkan di dalam KRL khususnya dan di tempat-tempat pelayanan umumnya adalah menerapkan Protokol Kesehatan 5M yang salah satu adalah menjaga jarak, agar penularan virus bisa dicegah. Tapi anehnya, semua kursi duduk dibatasi hanya enam orang agar tidak saling berdampingan satu sama lainnya. Namun, justru hal itu hanya membuat mubazir tempat saja, karena pemandangan lain dari yang berdiri pada berdesakan, karena tidak mendapatkan tempat, bahkan jumlahnya lebih banyak dari yang duduk.

Senada dengan yang dikatakan oleh bapak-bapak dari salah satu penumpang. Dia mengeluhkan peraturan yang tidak ada gunanya sama sekali. Semuanya sama aja.

“Apa-apaan ini? Sama aja. Mau duduk atau nggak, nggak masalah sekarang,” katanya kepada istrinya yang tidak mendapatkan kursi.

Dia juga mengeluhkan orang-orang yang berdesakan ketika berdiri. Jika diberikan tempat duduk mungkin sudah tidak berdesakan ketika berdiri. Wajahnya terlihat heran sekali dengan penerapan jaga jarak tersebut.

Tidak hanya di dalam kereta saja. Pada saat saya sampai di Stasiun Solo Balapan, terlihat para penumpang yang akan turun maupun yang naik, mereka berdesak-desakan. Tidak sampai di situ, saat menuju exit stasiun, hal serupa pun terjadi. Semacam ikan sarden dalam kalengnya. Sempit juga ramai sekali.

Hal itu tidak hanya di KRL Yogyakarta-Solo Balapan saja, hampir semua yang saya jumpai setiap naik angkutan umum seperti itu.

Saya mencoba menyusuri sela-sela penumpang yang ramai menuruni kereta tersebut di Solo Balapan. Langkah saya seperti kura-kura. Lambat sekali. Di samping saya takut bersentuhan dengan penumpang lain, saya juga menjaga diri sendiri agar orang lain selamat.

Ya, sebagai warga negara yang baik, saya mencoba untuk menerapkan dengan baik pula aturan yang sudah ditetapkan pemerintah pusat maupun daerah.

Tak lama, akhirnya saya keluar juga dari area stasiun Solo Balapan menuju Halte Balapan. Tujuan saya hendak ke Hotel Red Chillies. Di jalanan menuju hotel tidak begitu ramai. Akhir pekan, memang ramainya ke Yogyakarta bukan ke Solo. Wajar saja jalanan di Solo sepi. Pertanyaan yang sangat mengganggu saya adalah masihkah berlaku PPKM?

Oleh: Khoirul Anam
Editor: Martha Syaflina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *