Kurban dan Ego Manusia

Oleh: Iga Kurniawan

Saat ini kita mulai memasuki bulan Dzulhijjah, atau dalam istilah Jawa sering disebut bulan Besar. Dzulhijjah berasal dari dua kata, Dzu dan al-Hijjah. Dzu dalam tata bahasa Arab merupakan salah satu asma’ khamsah (lima kata benda) yang memiliki ciri khusus dalam i’rabnya. Dzu bermakna “shahib” atau pemilik. Sedangkan al-Hijjah satu akar dengan “hajji” yang bermakna “menuju”.

Dalam bulan ini ada ritual besar yang menjadi rukun Islam kelima bagi umat Islam, yakni ibadah Haji. Oleh karena itulah Dzulhijjah merupakan bulan haji, bulan pemilik ritual ibadah menuju Baitullah.

Selain Haji, dalam sejarah panjang umat Islam terdapat ajaran “kurban”, yang secara praktis adalah menyembelih hewan ternak dengan niat menjalankan perintah Allah. Kurban muncul pertama kali ketika Ibrahim, sang Father of Nations menyembelih anaknya, Ismail. Hal ini ia lakukan untuk memenuhi janjinya pada Allah setelah sebelumnya ia sesumbar untuk mengorbankan anaknya.

Dengan kata lain, kurban yang dilakukan oleh Ibrahim terhadap anaknya ini bukan karena tradisi atau budaya komunitas tertentu, akan tetapi berdasarkan doktrin agama, ini adalah sebuah perintah suci dari Tuhan. Hal ini pun tidak serta merta ia lakukan. Ibrahim harus menunggu beberapa kali mimpi untuk meyakinkan dirinya bahwa perintah itu bukan dari setan atau hawa nafsunya, melainkan betul-betul dari Allah. Dan benar saja, pada malam yang disebut malam “Arafah” Ibrahim yakin bahwa perintah itu memang dari Allah.

Begitu pada saat ia hendak mengeksekusi anaknya. Ia terlebih dahulu meminta pendapat sang anak tentang perintah Allah itu. Sang anak pun menyetujuinya. Keduanya secara suka rela menjalankan perintah yang tampak mengerikan itu, namun penuh hikmah. Di situlah kita melihat karakter ayah yang bijaksana dan anak yang patuh.

Hewan adalah simbol ego

Ketika Ismail bersiap menghadapi pisau ayahnya, rasa pasrah total sudah ada pada dirinya. Dengan penuh kesabaran ia hadapi pisau itu. Dan ketika pisau itu hendak menempel lehernya, tiba-tiba yang terdengar adalah suara domba. Leher domba itulah yang putus karena irisan pisau Ibrahim. Dan Ismail selamat.

Sikap rela berkurban Ibrahim dan Ismail sesungguhnya mengandung ibrah bagi manusia. Ibrahim muncul sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi anaknya. Aman tetapi rasa sayang pada sang anak jauh di bawah rasa sayang dan patuhnya pada Tuhan. Begitu juga Ismail. Sikap hormat dan tunduk pada perintah Tuhan mewarnai anak usia sekitar 13 Tahun.

Di era yang serba modern dan penuh ambisi seperti saat ini, sikap rela berkorban bagai Ibrahim sudah jarang ditemui. Akibat paradigma materialistik manusia condong pada kepentingan ego pribadinya. Apapun yang ia lakukan harus menguntungkan dan membuat dirinya sendiri senang. Tak peduli orang lain bagaimana. Situasi seperti ini disebut dengan ego.

Ego dalam konteks ini merupakan ego yang sudah dikendalikan oleh proses sebelumnya, yaitu id. Dalam pandangan Sigmund Freud, kehendak manusia terbagi dalam tiga fase, yakni id, ego dan super ego. Id merupakan proses primer, yakni proses berpikir akan sesuatu yang dapat memunculkan kenikmatan. Sedangkan ego adalah upaya mewujudkan kenimkmatan itu. Jika orang berpikir tentang kenikmatan lapar, maka ego yang harus dia lakukan adalah memakan makanan.

Sedangkan super ego merupakan kode moral seseorang yang membatasi tindakan ego yang melampaui batas-batas yang diatur oleh super ego. Akan tetapi falsafah kurban tidak banyak dipahami oleh umat Islam, bahkan yang berkurban. Umat Islam hanya menjalankan kurban secara normatif belaka, tanpa menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Padahal kurban mengajarkan kita membunuh ambisi dan ego yang selama ini bersemayam dalam hati. Menyembelih hewan kurban seharusnya dibarengi dengan upaya menyembelih ego dan rasa keakuan yang kuat. Apabila kita mampu membunuh ego dan keakuan kita, stabilitas sosial akan mudah tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.