Buku Persahabatan

Caramelia Anastasha, dia tidak pernah membayangkan dirinya sebagai orang yang menarik, unik atau pun lucu. Hidupnya datar-datar saja, tema pun seadanya. Namun, saat ini Carra sudah berdamai dengan hidupnya yang monoton. Walaupun datar hidupnya slama ini aman-aman saja. Selama ini Carra memang berada di zona nyaman. Paling tidak, sampai dia kenal dengan seseorang yang sudah mengubah hidupnya dan mengajaknya keluar zona nyaman. Seseorang itu adalah Dena Valerienshia, cewek nyebelin yang manis dan suka dandan yang akbrab disapa Dena.

Jadi, waktu itu di toilet sekolah ….

Carra lagi down banget karena nilai ulangan fisikanya anjlok. Terus tiba-tiba si Dena yang lagi dandan nyeletuk

“Gak bakalan hilang kali mata sembabnya.”

Awalnya Carra cuma diam dan tetap melanjutkan basuh muka, tetapi tiba-tiba cewek sotoy itu berkata, “Sini aku bantuin biar hilang sembabnya,” Entah apa yang dilakukan Dena kepada wajah Carra saat itu, dia banyak ngeluarin barang dari tas makeupnya.

Carra bingung, apa mukanya separah itu ya?. Setelah selesai, Carra bertanya kepada Dena “Muka aku diapain ya?

Dena menjawab dengan muka juteknya “Cuma makeup simpel aja.” Kemudian Dena pergi begitu saja.

Sewaktu Carra bercermin, dia kaget dan berkata “Waah, mata sembabku ketutup makeup, Dena emang jago banget makeupnya.”

Singkat cerita, Dena akhirnya sering main ke rumah Carra. Hari-hari yang awalnya berjalan begitu lambat, jadi terasa begitu cepat. Mereka nonton drama korea bareng, nangis bareng, makeup bareng, ngerjain tugas bareng, walaupun kebanyakan Carra sih yang ngerjain, Dena cuma nyontek, sampai bikin video lipsing bareng.

Terus suatu hari …..

“Dena kenapa?” tanya Carra pada Dena yang sedang terlihat sedih sambil melihat HP-nya.

“Lihat deh, Carra,” Dena menyodorkan HP-nya kepada Carra. Seketika Carra kaget melihat isi chatan Dena dengan sahabat-sahabat lamanya yang kini ninggalin Dena.

“Dulu mereka semua itu teman aku, tapi karena mereka merasa aku mengambil perhatian cowok-cowok yang mau mereka dekatin itu, terus mereka jauhin aku, Carra,” Mendengar curhatan Dena tentang sahabatnya yang ninggalin dia hanya karena masalah sepele. Carra menemukan ide agar bisa membuat Dena bahagia kembali bersamanya.

“Gimana kalau kita berdua membuat buku persahabatan?”  tanya Carra kepada Dena.

Terus isi bukunya tentang apa?” sahut Dena kepada Carra dengan wajah bingungnya.

“Isinya tentang peraturan semua hal yang berpotensi menjadi konflik di antara kita. Jadi hal-hal yang gak kamu inginkan gak akan terjadi lagi.”

“Boleh, bikin sekarang aja yuk,” balas Dena dengan wajah yang gembira.

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah …..

Akhirnya dibuatlah sebuah buku persahabatan, Carra dan Dena mulai menuliskan peraturan yang mereka percaya bakal mencegah mereka musuhan. Mulai dari jadwal diet harus bareng, kalau jalan bareng harus sama-sama oke penampilannya.

Ada satu peraturan yang paling penting, yaitu dilarang pacaran karena Dena merasa selama ini cowok selalu bawa masalah dalam persahabatannya. Carra tidak terlalu khawatir tentang hal itu, karena Carra sendiri juga masih fokus dengan belajar, belum terlalu mikirin cowok. Walaupun Carra memiliki kekaguman dengan salah satu cowok yang merupakan kakak kelasnya. Carra selalu berusaha untuk melupakannya. Namun, bagaimana pun cara yang telah Carra lakukan, cowok itu tetap ada di pikirannya.

Waktu terus berjalan, akhirnya Carra bisa membuang jauh pikirannya tentang cowok itu dan menikmati hari-hari dengan bahagia bersama Dena. Namun, hal yang terjadi selanjutnya tidak pernah Carra duga, karena cara kerja dunia itu misterius. Semakin kita menginginkan sesuatu untuk pergi menjauh, semakin dekat dia akan datang.

Dino adalah kakak kelas Carra yang dia kagumi sejak pertama dia masuk SMA. Carra tak pernah menyangka kalau cowok itu bakalan dekatin Carra sampai akhirnya cowok itu berkata “Aku sayang kamu Carra, aku mau kita Pacaran.”

Kalimat itu seakan membuat Carra merasa ini adalah sebuah mimpi. Namun tidak, ini nyata. Akhirnya Carra dan Dino pacaran. Carra sadar dia telah melanggar peraturan yang ada di buku persahabatan dan dia telah mengkhianati sahabatnya sendiri. Carra berusaha menutupi semua ini dari Dena demi menjaga perasaan Dena. Satu hal mengenai jaga perasaan adalah terkadang kita harus bohong agar tidak terjadi konflik.

Singkat cerita, semua rahasia yang ditutupi Carra kepada Dena akhirnya terbongkar saat Dena melihat Carra bergboncengan dengan cowok itu, Dino kakak kelas mereka. Sejak saat itu Dena marah pada Carra, mereka tidak lagi berkomunikasi seperti dulu. Carra selalu mencoba menghubungi Dena, tetapi Dena selalu menghindar dan menjauh dari Carra. Sekarang Carra benar-benar terjebak dalam silent treatmen-nya Dena, sudah 5 hari Dena menjauh dan menghindari setiap telpon dari Carra. Akhirnya Carra memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Dino

“Kak, kayaknya kita harus break dulu, deh. Aku gak mau persahabatan aku rusak cuma gara-gara kita punya hubungan kaya gini.”

 Dino pun membalas omongan Carra dengan lembut. “Aku ngerti kok perasaan kamu Carra. Kalau memang ini yang terbaik untuk kita, aku rela kita putus.” Carra beruntung banget dapat cowok yang pengertian seperti Dino dan mau menerima keputusan Carra.

Keesokan harinya, Carra akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Dena agar bisa menjelaskan semuanya kepada Dena. Carra menunggu Dena di depan rumahnya. Dena pun datang bersama ojek langganannya.

“Ngapain kamu ke sini ?, tanya Dena jutek kepada Carra.

“Aku mau ngejelasin semuanya ke kamu,” sahut Carra dengan wajah memelas.

“Kita udah gak sahabatan lagi!” Dengan nada yang keras Dena berkata seperti itu. Dena langsung masuk ke rumahnya dan menutup pintu.

Carra berusaha untuk membujuk Dena dengan menggedor-gedorkan pintu rumah Dena, sepertinya Dena marah besar kepada Carra.

Carra memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ketika berbalik badan, Carra melihat buku persahabatan mereka di dalam tempat sampah rumah Dena. Buku persahabatan itu sudah dirobek oleh Dena dan dibuang begitu saja. Carra mengambil buku itu dan membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Carra memperbaiki bagian depan buku yang robek sambil meneteskan air mata. Hal yang pertama kali Carra rasakan saat melihat buku itu di tempat sampah dan penuh robekkan adalah rasanya seperti ditusuk-tusuk, jantungnya serasa mau berhenti. Namun, Carra sadar mungkin seperti inilah yang juga Dena rasakan saat pertama kali tahu bahwa Carra melanggar buku persahabatan.

Singkat cerita, pada hari ulang tahun Dena, Carra memutuskan pergi ke rumah Dena, dia berharap Dena mau diajak berbicara. Akirnya pada hari itu, Dena mau berbicara dengan Carra. Dena menceritakan semua kekesalannya kepada Carra, Carra pun juga bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan sejelas-jelasnya.

“Hai Dena, apa kabar?” tanya Carra kepada Dena.

“Baik, ada urusan apa ke sini?” jawab Dena dengan wajah juteknya.

Carra pun menceritakan bahwa dia rela memutuskan hubungannya demi bisa berbaikan dengan Dena. Namun, sahutan Dena membuat Carra terdiam.

“Pada saat kamu melanggar peraturan itu, kamu menganggap aku teman gak? Kamu yang bikin peraturan dan kamu juga yang melanggar. Sebenarnya kamu anggap aku ada gak sih, Carra?”

Pertanyaan Dena ini membuat percakapan mereka menjadi adu argument sampai akhirnya ada sebuah kalimat yang diucapkan Dena kepada Carra yang membuat Carra sedih dan tak menyangka Dena akan berbicara,“Kamu kalau gak aku temanin juga gak bakalan ada teman, Carra. Aku mau temenan sama kamu karena kasihan aja.” Ucapan Dena membuat Carra sedih karena Carra datang ke rumah Dena hanya untuk meminta maaf agar persahabatan mereka bisa kembali. Perkataan Dena barusan membuat Carra memutuskan untuk pergi dan berkata,“Semoga kamu mendapatkan sahabat yang lebih baik ya Dena.” Carra sambil menaruh buku persahabatan mereka yang sudah dia perbaiki. Carra pun pergi meninggalkan rumah Dena.

Penulis: Wanda Andita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.