Sambut Fenomena Ageing Population, Mensos Gus Ipul Sebut Lansia Aset Strategis Bangsa
Jakarta, MZK News – Negara Kesatuan Republik Indonesia kini resmi memasuki fase ageing population atau era peningkatan jumlah struktur penduduk lanjut usia (lansia). Fenomena demografi ini diproyeksikan tidak akan menjadi beban pembangunan, melainkan bertransformasi sebagai aset berharga bagi bangsa.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa kelompok masyarakat senior ini memegang peranan penting dalam menyokong stabilitas sosial. Oleh sebab itu, negara wajib hadir untuk menjamin hak perlindungan sekaligus membuka ruang aktualisasi diri bagi mereka.
“Lansia bukan beban pembangunan, melainkan bagian penting dari masyarakat yang harus dijaga dan dilindungi serta mendapat pemberdayaan,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Berdasarkan data proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lansia di Indonesia diperkirakan menembus angka 65,82 juta jiwa atau setara 20,31 persen pada tahun 2045. Lonjakan kuantitas ini linier dengan merangkaknya usia harapan hidup nasional yang kini menyentuh rerata 72 tahun.
Merujuk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998, status lansia disematkan kepada warga negara yang telah mencapai usia biologis 60 tahun ke atas. Pergeseran kurva usia ini menjadi perhatian serius kabinet dalam momentum Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026.
Pemerintah optimistis apabila kelompok lansia mampu menjaga kebugaran fisik dan tetap produktif, Indonesia berpotensi besar meraih bonus demografi kedua. Skenario positif ini digadang-gadang menjadi mesin pendorong baru dalam mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.
“Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen bersama untuk memuliakan para lansia,” kata Gus Ipul menekankan pentingnya sinergi kultural untuk menghargai rekam jejak perjuangan para sesepuh bangsa.
Mengusung tema besar ‘Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh’, Kementerian Sosial (Kemenos) mengajak publik memahami bahwa pembangunan manusia bersifat berkelanjutan. Upaya pemenuhan kesejahteraan hidup wajib melekat dan diberikan secara adil tanpa memandang batas usia produktif.
Sebagai manifestasi nyata, Kemensos menggelar berbagai program jaminan sosial gratis selama rangkaian perayaan HLUN tahun ini. Intervensi medis dan finansial yang diberikan meliputi operasi katarak massal, pemeriksaan kesehatan, terapi fisik, hingga penyaluran Bantuan ATENSI.
Selain itu, korps sosial juga membagikan paket alat bantu dengar, perbaikan sarana kamar, pemenuhan hak administrasi sipil, hingga modal kewirausahaan. Seluruh bantuan diserahkan secara transparan demi mendongkrak kemandirian ekonomi makro para lansia rentan.
Acara puncak perayaan HLUN 2026 sendiri dipusatkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengedepankan prinsip kesederhanaan yang padat substansi. Pemerintah memangkas anggaran seremonial mewah dan mengalihkannya untuk aksi konkret yang berdampak langsung ke akar rumput.
Eksekusi lapangan diprioritaskan menyasar wilayah dengan angka kemiskinan lansia tinggi, kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta area urban padat. Rangkaian agenda kemanusiaan ini serentak digulirkan di seluruh kabupaten/kota se-NTT serta wilayah Indonesia lainnya.
Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Kemensos RI

