Wajib Belajar 13 Tahun: Strategi Pemerintah Siapkan Generasi Emas Indonesia 2045
Tangerang Selatan, MZK News – Pemerintah secara resmi memperkuat implementasi kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun sebagai langkah strategis menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Program ini berfokus pada penguatan pendidikan anak usia dini (PAUD), peningkatan kualitas guru, serta pemenuhan gizi anak sejak masa awal kehidupan.
Komitmen ini ditegaskan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam sosialisasi di Tangerang Selatan, Minggu (1/3/2026). Kebijakan ini menekankan pentingnya layanan pendidikan yang berkelanjutan, mulai dari prasekolah hingga pendidikan kesetaraan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa masa usia dini adalah periode emas bagi perkembangan intelektual dan sosial anak. Oleh karena itu, perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan sejak usia dini menjadi prioritas nasional.
“Anak perlu ruang untuk bereksplorasi, berimajinasi, serta membangun rasa percaya diri melalui lingkungan belajar yang mendukung dan pendidik yang mampu menjadi teladan,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulisnya.
Selain jalur formal, pemerintah juga memperkuat pendidikan nonformal dan informal melalui program kesetaraan Paket A, B, dan C. Program ini dikelola melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di seluruh Indonesia.
Direktur Pendidikan Nonformal, Baharudin, menjelaskan bahwa tren pendidikan nonformal kini semakin diminati masyarakat. Peserta didik di jalur ini memiliki hak yang setara dengan jalur formal, termasuk akses penuh terhadap dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Tidak hanya soal kurikulum, pemerintah mengintegrasikan pembangunan pendidikan dengan pemenuhan gizi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini menyasar peserta didik, ibu hamil, serta ibu menyusui untuk memastikan kesehatan anak sejak dalam kandungan.
Mendikdasmen menekankan bahwa kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kondisi nutrisi anak. Sinergi antara pendidikan bermutu dan kecukupan gizi diyakini akan menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) secara signifikan.
Pemerintah berharap kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat menciptakan fondasi belajar yang kokoh. Dengan kesiapan fisik dan mental yang baik, anak-anak Indonesia siap menghadapi tantangan global di masa depan.
Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: InfoPublik


