Soal Kompensasi Warga Pulau Pandan dan Karang Pandan, Humas PLTA Berikan Penjelasan
Kerinci, MZK News – Aktivitas pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci Batang Merangin yang saat ini tengah berlangsung di Sungai Tanjung Merindu, Kecamatan Danau Kerinci menuai pro dan kontra dari sekelompok warga.
Sekelompok masyarakat yang mengatas namakan warga Desa Pulau Pandan dan Desa Karang Pandan tersebut sempat meminta agar pihak perusahaan menghentikan sementara kegiatan pembangunan karena dinilai menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan mata pencaharian mereka.
Menanggapi hal tersebut, selaku Humas PLTA Merangin Hidro H. Aslori Ilham menjelaskan bahwa pihak perusahaan sebenarnya telah menunaikan kewajiban terhadap masyarakat dalam bentuk kompensasi, bahkan dengan nilai yang disepakati bersama antara warga, pemerintah desa, dan tokoh adat.
“Kami sudah membayarkan kompensasi kepada masyarakat yang terdampak sesuai hasil kesepakatan. Angka itu bukan kami yang menentukan namun melainkan hasil kesepakatan dan musyawarah bersama. Jadi tidak ada yang ditutup-tutupi, kami sangat terbuka,” ujar Aslori selaku Humas PLTA, Rabu (09/07).
Aslori menyebutkan, kompensasi yang diberikan oleh pihak PLTA hingga kini lebih dari 500 Kepala Keluarga (KK) telah menerima kompensasi tersebut.
“Kompensasi kami berikan atas dasar Data kk yang ada di dua desa tersebut dan melakukan pemutaakhiran data dari DPT saat pemilihan kemaren dan serta pendataan kami di lapangan, sehingga kami melakukan pembayaran kompensasi sesuai dengan data yang ada,” tambah Aslori.
Namun demikian, Aslori tidak menampik bahwa masih ada sebagian kecil masyarakat yang belum mendapatkan kompensasi hal ini dikarenakan permintaan mereka di laut kesepakatan yang sudah di tentukan.
Meski demikian selaku humas PLTA masih membuka ruang untuk komunikasi dengan masyarakat yang belum mendapatkan kompensasi dengan syarat benar-benar masyarakat pulau pandan ataupun karang pandan yang memiliki data data yang Sahih dan tidak tumpang tindih.
“Kalau ada yang belum menerima, itu karena mereka mengajukan angka yang lebih tinggi dari kesepakatan. Ini yang kadang dimanfaatkan oleh oknum-oknum untuk menciptakan gejolak. Kami menyayangkan hal itu,” ujar Aslori.
Aslori berharap agar seluruh pihak dapat menjaga suasana kondusif di tengah pembangunan proyek ini karena PLTA yng dibangun saat ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat pasokan listrik di Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi dan sekitarnya, tetapi juga sebagai upaya transisi menuju energi bersih yang ramah lingkungan. Dengan kapasitas daya yang diproyeksikan mencapai ratusan megawatt, PLTA Kerinci menjadi penopang penting bagi ketahanan energi nasional.
“Kita menyadari bahwa pro dan kontra itu hal yang biasa di tengah pembangunan proyek raksasa ini namun kita mari saling menghormati dan menjaga komitmen bersama dan untuk kita ketahui pembangunan PLTA ini dampak positif nya bagi masyarakat sangat luas bukan hanya masyarakat kerinci dan kota sungai penuh namun jangkauan sampai 3 provinsi tetangga,” katanya.
Aslori juga menegaskan bahwa dampak yang dialami oleh warga sekitar hanya di saat pekerjaan nya saja namun setelah pekerjaan selesai semuanya kembali normal.
“Harapan besar digantungkan pada proyek ini, peran serta dan pengertian semua pihak menjadi kunci agar pembangunan dapat memberikan manfaat luas tanpa mencederai keadilan sosial dan lingkungan,” ujarnya.
Terkait kekhawatiran masyarakat soal berkurangnya hasil tangkapan ikan, ia menyebut belum pernah terjadi fenomena “banjir ikan” atau kepunahan populasi ikan selama pembangunan PLTA tetapi malah sebaliknya saat pekerjaan pengerukan aliran sungai populasi ikan akan bertambah berkembang biak karena aliran sungai lancar dan tidak terjadi pendangkalan.
Reporter: Dewi Wilonna
Editor: Khoirul Anam


