ArtikelFEATUREDTOP STORIES

Hari Asyuro Perspektif Islam Jawa

Foto: Ugorampe, (Sumber: Twitter @kratonjogja)

Oleh: Iga Kurniawan, S.H., M.Ag.

Hari Asyuro atau hari ke sepuluh bulan Muharram menjadi salah satu malam yang istimewa bagi kalangan umat Islam, termasuk kalangan umat Islam di Nusantara. Hari ini pula yang menjadi landasan bulan Muharram disebut bulan Suro dalam penanggalan kalender Jawa dengan mengambil dua suku kata terakhir dari hari Asyuro.

Hari Asyuro dalam keyakinan umat Islam dianggap sebagai hari yang istimewa disebabkan oleh berbagai peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu yang berkaitan dengan aspek teologis umat Islam. Peristiwa-periwtiwa itu ada yang membahagiakan dan ada pula yang memilukan.

Pada hari Asyuro Allah menciptakan ‘arsy, langit, bumi, matahari, bulan, bintang dan surga. Pada hari itu pula Nabi Idris diangkat di tempat yang tinggi, bahtera Nuh mendarat di bukit Jud, Nabi Ibrahim dan dilahirkan dari api raja Namrud, Nabi Ya’qub disembuhkan dari seluruh penyakit, Nabi Yusuf dikeluarkan dari penjara (Solikhin, 2010). Pada hari itu pula Nabi Musa dan pengikutnya berhasil lolos dari kejaran Fir’aun dan Fir’aun tenggelam di lautan, Nabi Sulaiman diberi kerajaan yang besar, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan, Nabi Isa dilahirkan dan diangkat ke langit (Solikhin, 2010).

Sedangkan kisah memilukan yang pernah terjadi di malam hari Asyuro adalah terbunuhnya Husain bin Ali bin Abi Thalib secara tragis di Padang Karbala, Irak. Peristiwa itu terjadi antara pasukan Husain bin Ali yang hanya berjumlah sekitar 73 orang melawan pasukan kiriman Yazid bin Muawiyah, penguasa Bani Umayyah waktu itu yang berjumlah sekitar seribu orang lebih hingga perang tersebut lebih pantas disebut pembantaian. Husain pun gugur setelah ditebas lehernya oleh salah seorang pasukan Yazid. Yazid kemudian menyuruh Ubaidillah bin Ziyad untuk membawa kepala Husain menuju Syam (Alfarizi, 2021).

Asyuro Dalam Perspektif Islam

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Qatadah, Nabi Muhammad pernah ditanya oleh salah seorang sahabat tentang puasa hari Asyuro. Nabi menjelaskan bahwa puasa hari Asyuro dapat melebur dosa setahun yang lalu (Asqalani).

Sementara dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi sampai di Madinah melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari Asyuro lalu Nabi bertanya tentang hal itu. Mereka pun menjawab bahwa hari ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dari kejaran Fir’aun, karena itulah mereka berpuasa. Lalu Nabi menjawab bahwa beliau lebih berhak atas Musa dari pada orang-orang Yahudi itu. Maka Nabi berpuasa (Bukhari, 2006).
Puasa yang dilakukan oleh Nabi di hari Asyuro tersebut dilakukannya di Madinah sampai turun kewajiban Puasa Ramadhan. Sejak turunnya kewajiban Puasa Ramadhan, Nabi tidak lagi melanjutkan Puasa Asyuro. Meskipun begitu, Nabi tetap membolehkan tradisi Puasa Asyuro dilanjutkan oleh umat Islam sehingga sampai saat ini para ulama tetap meyakini anjuran puasa Asyuro.

Riwayat tersebut setidaknya menggambarkan betapa hari Asyuro begitu Istimewa bagi Nabi Muhammad hingga muncul ajaran berpuasa. Dengan kata lain, Islam juga memuliakan hari tersebut. Cara Islam memuliakan Hari Asyuro tampak berbeda. Selain berpuasa di hari Asyuro, para ulama juga mengajarkan untuk memanjatkan doa-doa yang dilantunkan pada malam hari Asyuro. Doa-doa tersebut boleh dengan berbagai substansi asalkan tetap pada koridor yang benar.

Di sisi lain, ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa barang siapa yang melapangkan keluarganya pada hari Asyuro, maka Allah akan melapangkan rizkinya sepanjang tahun (Solikhin, 2010). Riwayat tersebut tampak memvisualisasikan model kebaikan yang sederhana dalam rumah tangga. Dengan kata lain, untuk berbuat baik tidak usah sampai berpikir sesuatu yang besar. Ayah yang menyenangkan anak-anaknya, suami yang menyenangkan isteri dan sebaliknya, anak-anak yang berusaha menyenangkan Ayah dan Ibunya termasuk perbuatan yang terpuji dalam pandangan Islam. Dari hal-hal sederhana inilah eksistensi Islam semakin kuat.

Asyuro Dalam Tradisi Islam Jawa

Sejak era Sultan Agung Hanyakrakusumo, kalender Hijriyah mengalami “jawanisasi” hingga kemudian muncul bulan-bulan Jawa yang sebetulnya berasal dari kalender Hijriyah itu sendiri. “Muharram” menjadi “Suro” yang diambil dari hari “Asyuro”, tanggal terpenting dalam bulan tersebut. “Shafar” menjadi “Sapar”, “Rabiul Awwal” menjadi “Mulud”, bulan kelahiran Nabi Muhammad, “Rabiul Tsani” menjadi “Bakdo Mulud”, “Jumadil Awal” menjadi “Madi Awal”, “Jumadil Akhir” menjadi “Madi Lakhir”, “Rajab” menjadi “Rejeb”, “Sya’ban” menjadi “Ruwah” karena terdapat tradisi ziarah kubur menjelang puasa, “Ramadhan” menjadi “Poso”, “Syawal” menjadi “Sawal”, “Dzul Qa’dah” menjadi “Apit”, serta Dzhul Hijjah menjadi “Besar” karena terdapat Hari Raya Kurban dan menjadi bulan ibadah terbesar, yakni ibadah haji.

Pada dasarnya tradisi yang dijalani oleh masyarakat Islam Jawa tidak terlepas dari asimilasi Tiga Agama dengan kebudayaan Jawa itu sendiri, yakni Hidhu-Jawa, Budha-Jawa dan Islam-Jawa. Asimilasi tersebut pada akhirnya berdampak pada ritual keagamaan yang dikawinkan dengan tradisi lokal.
Hasil perkawinan antara Islam dan tradisi lokal itu, oleh masyarakat muslim Jawa, dimanifestasikan dalam bentuk ritual menggunakan simbol.

Simbol-simbil itu merupakan ekspresi manifestasi manusia dalam penghayatan terhadap “realitas yang tidak terjangkau” sehingga kemudian menjadi “yang sangat dekat”. Simbol-simbol yang digunakan biasanya terdiri dari “uborampe” (sejumlah makanan yang disajikan dalam ritual selamatan dan sebagainya) yang merupakan wujud pikiran seseorang untuk lebih mendekat pada Tuhan. Demikian itu dimaksudkan pula sebagai negosiasi spiritual untuk menolak hal-hal buruk yang berpotensi menimpa mereka. Konsep keyakinan semacam ini dalam ajaran Islam merupakan bentuk realisasi dari sedekah yang mampu menolak bala’ (Solikhin, 2010).

Bibliografi

Alfarizi, M. Z. (2021). Tragedi Tragedi Paling Memilukan Dalam Sejarah Islam. Yogyakarta: Laksana.
Asqalani, I. H. Bulugh Al Maram. Surabaya: Nurul Huda.
Bukhari, M. b. (2006). Shahih Bukhari. Riyadl: Maktabah al-Ruysd.
Solikhin, M. (2010). Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa. Yogyakarta: Narasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *