Perjanjian ART Resmi Diteken: Produk Unggulan Indonesia Bebas Tarif Masuk ke AS
Jakarta, MZK News – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Langkah strategis ini mengatur besaran tarif timbal balik serta pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi kedua negara.
Kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi intensif untuk merespons kebijakan tarif sepihak AS pada April 2025 lalu.
Saat itu, AS menetapkan tarif sebesar 32 persen bagi negara yang menyumbang defisit perdagangan, termasuk Indonesia.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menjelaskan bahwa diplomasi dipilih untuk melindungi jutaan tenaga kerja.
Jika tidak dinegosiasikan, daya saing produk lokal di pasar Amerika bisa terancam jatuh.
“Pemerintah memandang negosiasi diperlukan untuk menjaga daya saing produk ekspor Indonesia dan melindungi sekitar 4–5 juta pekerja langsung di sektor industri padat karya,” ujar Haryo dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/2/2026).
Melalui jalur diplomasi ini, Indonesia berhasil menurunkan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen.
Kesepakatan tersebut akhirnya difinalisasi oleh Presiden kedua negara pada 19 Februari 2026 dan akan mulai berlaku efektif dalam waktu dekat.
Sebanyak 1.819 produk Indonesia mendapatkan pengecualian tarif melalui perjanjian ini.
Produk unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, karet, hingga kakao kini memiliki akses lebih mudah untuk menembus pasar Negeri Paman Sam.
Menariknya, produk tekstil Indonesia mendapatkan perhatian khusus melalui skema pengurangan tarif hingga 0 persen.
Hal ini diprediksi akan mendongkrak volume ekspor nasional ke level yang lebih kompetitif.
“Dengan penurunan tarif hingga 0 persen untuk sejumlah produk unggulan, daya saing ekspor Indonesia di pasar AS akan meningkat signifikan,” tambah Haryo menjelaskan dampak positif bagi pengusaha lokal.
Selain urusan ekspor, perjanjian ART juga membuka pintu investasi lebar-lebar, terutama di sektor teknologi tinggi.
Sektor farmasi, alat kesehatan, dan informasi komunikasi menjadi fokus utama dalam kemudahan penanaman modal.
Sebagai timbal balik, Indonesia membuka akses pasar untuk 99 persen produk asal Amerika Serikat dengan tarif 0 persen.
Pemerintah juga berkomitmen menyederhanakan hambatan non-tarif untuk memperlancar arus barang masuk.
Indonesia juga berencana meningkatkan pembelian produk energi dan pesawat dari Amerika guna menyeimbangkan neraca perdagangan.
Langkah ini dirancang untuk menciptakan iklim bisnis yang kondusif sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: InfoPublik/Kemenko Perekonomian
