RSUD Ir. Soekarno Morotai Siapkan Layanan Jantung dan Stroke Melalui Gedung Cath Lab Baru
Morotai, MZK News – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ir. Soekarno Pulau Morotai terus mematangkan persiapan pengoperasian gedung baru Cath Lab (Laboratorium Kateterisasi). Fasilitas medis canggih ini diproyeksikan menjadi pusat penanganan penyakit jantung dan stroke bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Pembangunan fisik gedung laboratorium tersebut dilaporkan telah rampung sepenuhnya pada akhir tahun lalu. Kini, pihak rumah sakit mulai mengalihkan fokus pada pengadaan alat kesehatan serta pemenuhan standar operasional dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Direktur RSUD Ir. Soekarno, dr. Christie Mamarimbing, menjelaskan bahwa gedung ini memiliki fungsi vital untuk tindakan intervensi medis. Salah satu layanan unggulan yang akan dihadirkan adalah prosedur pemasangan cincin jantung secara mandiri di Morotai.
“Gedung ini fungsinya untuk kateterisasi jantung dan otak bagi penderita jantung dan stroke. Bangunannya sudah selesai, tinggal menunggu pengisian alat Cath Lab dari Kemenkes,” ujar dr. Christie, Rabu (1/4/2026).
Meskipun fisik bangunan telah siap, dr. Christie mengungkapkan adanya tantangan besar terkait infrastruktur dasar, khususnya ketersediaan daya listrik. Alat Cath Lab membutuhkan daya minimal 200 KVA agar dapat berfungsi dengan stabil dan aman.
Saat ini, kapasitas listrik di RSUD sudah terpakai sepenuhnya untuk operasional gedung lama. Untuk mengaktifkan fasilitas baru ini, rumah sakit setidaknya memerlukan penambahan daya listrik hingga mencapai total 400 KVA.
Pihak rumah sakit sangat mengharapkan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah (Pemda) terkait peningkatan sarana prasarana ini. Tanpa kesiapan listrik yang memadai, bantuan alat medis senilai belasan miliar rupiah dari pusat berisiko ditunda pelaksanaannya.
“Harapan kami ada dukungan Pemda untuk menaikkan daya listrik. Jika infrastruktur dasar belum siap, bantuan alat dari pusat bisa saja ditunda ke tahun depan,” tegas dr. Christie mengingatkan pentingnya aspek teknis tersebut.
Selain persoalan listrik, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) spesialis juga menjadi poin krusial yang harus segera diatasi. RSUD membutuhkan tim ahli yang terdiri dari dokter spesialis jantung intervensi dan spesialis saraf intervensi yang bersertifikat.
Saat ini, dokter spesialis jantung yang ada di RSUD belum memiliki kualifikasi untuk melakukan tindakan intervensi secara mandiri. Sementara itu, dokter spesialis saraf intervensi sebelumnya telah ditarik oleh Kemenkes untuk bertugas di wilayah lain.
Sebagai langkah strategis, RSUD berencana menjalin kerja sama melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan rumah sakit besar lainnya. Kerja sama ini ditujukan untuk menjamin ketersediaan tenaga ahli melalui skema kunjungan tim medis secara berkala.
“Kami berencana membangun kerja sama dengan RS di Tobelo atau RSUP Kandou Manado. Skemanya berupa pengiriman satu tim dokter untuk melakukan tindakan berkala di sini,” tambahnya menjelaskan solusi jangka pendek.
Pengadaan alat dari Kemenkes sendiri diproyeksikan akan terealisasi pada akhir tahun 2026 mendatang. Namun, kepastian jadwal tersebut sangat bergantung pada hasil penilaian kesiapan sarana dan SDM yang ada di lapangan oleh tim verifikasi pusat.
Diharapkan dengan sinergi antara RSUD, Pemda, dan Kemenkes, layanan jantung dan stroke ini dapat segera dinikmati oleh warga Morotai. Hal ini akan sangat membantu pasien agar tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan penanganan medis darurat.
Reporter: Roger Moore
Editor: Martha Syaflina


