Relokasi Pasar Tanjung Bajure Memanas: Pedagang Mengadu ke DPRD Sungai Penuh
Sungai Penuh, MZK News – Polemik relokasi pedagang Pasar Tanjung Bajure oleh Pemerintah Kota Sungai Penuh kian memanas. Sejumlah pedagang yang dipindahkan dari bahu jalan ke dalam bangunan pasar menyatakan ketidakpuasan mendalam atas kebijakan tersebut, Jumat (27/3/2026).
Para pedagang mengaku relokasi ini berdampak langsung terhadap penurunan pendapatan mereka secara drastis. Lokasi baru di dalam pasar dinilai sepi pengunjung, sehingga aktivitas jual beli tidak berjalan normal seperti saat mereka berada di pinggir jalan.
Kondisi ekonomi yang terhimpit membuat para pedagang merasa sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka merasa terjebak dalam situasi yang merugikan tanpa adanya solusi pendukung dari pemerintah daerah untuk meramaikan area dalam pasar.
“Kami sudah mencoba bertahan di dalam, tapi pembeli hampir tidak ada. Kondisi ini membuat kami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ujar salah seorang pedagang dengan nada lirih.
Merasa terdesak, sebagian pedagang sempat mencoba kembali berjualan di lokasi semula. Namun, upaya tersebut justru memicu ketegangan fisik setelah muncul dugaan tindakan arogan dari oknum juru parkir di kawasan tersebut.
Pedagang melaporkan bahwa dagangan dan payung jualan mereka ditendang serta dibongkar secara paksa. Tindakan kasar ini dinilai sangat menyakiti hati rakyat kecil yang hanya berniat mencari nafkah secara jujur di tengah penataan kota.
“Kami hanya ingin berjualan seperti biasa, tapi malah diperlakukan seperti itu. Dagangan kami ditendang, payung kami dijatuhkan,” ungkap pedagang lainnya mengekspresikan kekecewaannya.
Ironisnya, lahan bekas tempat mereka berjualan kini justru dialihfungsikan menjadi area parkir kendaraan roda dua. Hal ini memicu rasa ketidakadilan karena ruang publik yang dilarang untuk berdagang justru dilegalkan untuk aktivitas parkir.
Ketimpangan kebijakan juga menjadi sorotan tajam para pedagang yang merasa dianaktirikan. Mereka melihat adanya praktik tebang pilih, di mana pedagang di sisi jalan lain masih diperbolehkan beraktivitas tanpa gangguan petugas maupun juru parkir.
“Kami merasa dianaktirikan. Kenapa ada yang boleh berjualan, sementara kami tidak? Ini jelas tidak adil,” keluh pedagang tersebut sambil menunjuk area yang masih diperbolehkan berjualan.
Demi mencari keadilan, puluhan pedagang akhirnya mendatangi kantor DPRD Kota Sungai Penuh untuk menyampaikan aspirasi. Mereka meminta perlindungan legislatif agar dapat kembali berjualan di lokasi semula atau mendapatkan solusi tempat yang lebih layak.
Merespons aduan tersebut, anggota Komisi II DPRD Kota Sungai Penuh langsung turun ke lapangan untuk meninjau kondisi Pasar Tanjung Bajure. Kehadiran wakil rakyat ini disambut harapan besar oleh para pedagang yang menuntut solusi nyata.
Peninjauan lapangan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mengurai benang kusut polemik pasar. Pemerintah diminta tidak hanya fokus pada estetika kota, tetapi juga mempertimbangkan kelangsungan hidup para pedagang kecil.
Hingga saat ini, persoalan relokasi Pasar Tanjung Bajure terus menjadi perhatian publik di Sungai Penuh. Pedagang mendesak pemerintah segera mengambil langkah bijak agar roda ekonomi mereka kembali normal tanpa adanya tekanan fisik maupun mental.
Reporter: Regi Idarto
Editor: Martha Syaflina


