DaerahFEATUREDNewsTOP STORIES

Salmah Asal Desa Woro Meninggal Misterius, Polisi Dituding Tidak Profesional

Foto: Ambulans yang digunakan untuk membawa korban kecelakaan (Foto: IST)

Bima, MZK News – Salmah binti Mansyur, (50) asal Desa Woro, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima meninggal dunia hingga menjadi Isak tangis keluarga karena dibalik peristiwa maut itu masih misterius.

Korban meninggal dengan luka bocor kepala bagian belakangnya. Penyebabnya belum diketahui, yang masih menjadi perbincangan keluarganya hingga sekarang. Namun, dibalik itu diduga kuat kelalaian suami korban dalam berkendara sepeda motor sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia.

Humas Polres Dompu, Hujaifah membenarkan adanya peristiwa maut itu. Namun, dibalik peristiwa belum diketahui penyebabnya.

“Benar ada peristiwa itu tadi sore. Sebabnya, kami belum tahu pasti,” kata Hujaifah melalui keterangan tertulisnya ketika dikonfirmasi MZK melalui WhatsApp, Rabu (21/9) 23.00 WITA.

Korban meninggal, sambung dia, diduga kecelakaan lantas tunggal sepeda motor (SPM) Yamaha Mio dengan Nopol. DR 2469 CM, yang dikendarai oleh suaminya, Abdul Hamid (60), warga Desa Baka Jaya Kec. Woja, Kab. Dompu di Jln. Sumbawa-Dompu dan tepat di Desa Anamina, Kec. Manggelewa Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat pada Rabu, 21 September 2022 sekitar pukul 17.00 WITA .

Menurut keterangan masyarakat di sekitar tempat kejadian perkara (TKP), kata dia, kejadian itu tidak ada yang melihat, dan masyarakat sekitar juga menyampaikan bahwa pada saat kejadian, suami korban dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Tak henti di situ, melihat kejadian sehingga masyarakat mengangkat dan melarikan korban menuju Rumah Sakit (RS) Pratama dengan menggunakan mobil pickup yang lewat di TKP guna tindakan medis secara intensif. Namun, sesampai di RS itu, korban sudah meninggal dunia.

Setelah itu, korban pun langsung dibawa pulang oleh keluarga suaminya menuju Kabupaten Bima atas permintaan keluarga korban dengan memakai Ambulance RS itu.

Mendengar informasi kejadian itu dari masyarakat sekitar pukul 18.30 WITA, tambah dia, dan atas informasi itu, anggota piket jaga Polsek Manggelewa langsung turun di TKP, mengamankan barang-bukti serta tindakan lain sesuai kewenangan dan tugasnya.

“Anggota piket jaga Polsek Manggelwa mendatangi TKP, mengamankan barang-bukti,
mencari pubaket, dan menghubungi piket Laka Polres Dompu,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak keluarga korban menilai aparat Polsek Manggelwa maupun Polres Dompu tidak profesional dalam menindak lanjut peristiwa kematian korban. Bayangkan saja, katanya, peristiwa itu terjadi sekitar sore hari, polisi di sana mengetahui informasi sekitar pukul 18.30 WITA. Polisi macam apa itu, masa peristiwa sebesar itu diketahuinya setelah sekitar beberapa jam kejadian kan sangat tidak logis. Emang Polres Dompu tak memiliki anggota Bhabinkamtibmas di desa itu? Sehingga ketinggalan informasi kejadian yang meregang nyawa korban.

“Setahu kami, tiap desa ada Bhabinkamtibmas, tapi kenapa di desa tempat kejadian perkara (TKP) keluarga kami ini, ko tidak ada. Kan aneh,” ujarnya.

Ketidak profesionalnya polisi di Dompu itu, tegas pihak keluarga korban, tidak hanya soal tindak lanjut atas kejadian itu, terlebih menyampaikan berita melalui beberapa media online bahwa korban dibawa pulang oleh keluarga suami korban dengan menggunakan mobil ambulance Rumah Sakit Pratama Manggelwa. Sementara jenazah korban dibawa dengan mobil ambulance Desa Nowa, Kec Woja.

“Nah, dari keterangan itu saja sudah menggambarkan polisi di sana tidak profesional bertugas,” tegasnya.

Pihak keluarga korban mengaku, meski kematian korban atas ajalnya, tetapi tindakan kepolisian yang tidak profesional itu yang membuat kecewa, terlebih, sesaat setelah jenazah korban tiba di rumah duka, keluarga korban sontak melihat anggota Polsek Madapangga mendatangi keluarga guna meminta jenazah korban divisum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sondosia terlebih dahulu.

Miris, tambahnya, pada saat jenazah hendak dibawa ke RSUD itu, menampik satu pun anggota polisi yang turut mendampingi hingga jenazah pun sempat ditolak pihak RS. Setelah berjam-jam jenazah bersama keluarga di RS, barulah polisi datang hingga visum pun dapat dilakukan dokter.

“Kami berjam-jam di RS Sondo sempat ditolak karena tidak ada satu pun polisi. Setelah polisi datang, baru bisa dilakukan visum itu dan prosesnya lancar,” pungkasnya.

Sementara Kapolsek Madapangga, IPDA Kader membantah adanya informasi bahwa pihaknya mendatangi hingga meminta pihak keluarga korban untuk membawa jenazah korban ke RSUD Sondosia guna dilakukan visum.

“Kami tidak pernah meminta keluarga korban untuk melakukan visum jenazah korban karena itu kejadian bukan di wilayah hukum Polsek Madapangga. Kami hanya datang untuk mengamankan suami korban yang datang bersama keluarga korban jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan akibat isu-isu yang berkembang terkait kejadian,” ujar Kader kepada MZK, Sabtu (24/9) pagi.

Menurut dia, Polsek Madapangga tidak punya kapasitas terkait kasus itu, kejadian di wilayah hukum Dompu, korban adalah warga Desa Woro, maka Polsek dalam hal ini Bhabinkamtibmas berusaha secara preventif terkait adanya isu yang berkembang di masyarakat terkait kematian korban.

Dia meminta jangan seakan-akan kehadiran Polsek Madapangga menjadi asumsi dan presepsi negatif. Padahal, kedatanga personil polsek semata-mata membantu masyarakat dalam hal ini korban, kenapa dialihkan ke Polsek Madapangga? Sementara yang menjadi soal penanganan dan kejadian di wilayah hukum Polsek Manggelewa.

Terkait korban dibawa ke RSUD Sondosia, sambung dia, itu atas permintaan Kapolsek Manggelewa, karena Kapolsek Manggelewa mengatakan bahwa korban belum dilakukan pemeriksaan di sana dan seharusnya pihak Polsek Manggelewa yang mendampingi korban dan bukan dari Polsek Madapangga.

“Ya, karena nilai kemanusiaan dan langkah preventif, maka Bhabin dan Babinsa Woro yang melaksanakan pendampingan,” tutupnya.

Reporter: Muhtar Habe

Editor: Khoirul Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This will close in 0 seconds