Mika 1993: Mama, Matamu Biru
Mikha adalah seorang anak berusia enam tahun pada saat itu. Ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Pada dasarnya, Mikha adalah anak yang baik, periang, dan mudah bergaul. Ia juga sedikit jahil, seperti anak-anak seusianya.
Hari itu Mikha berjalan pulang sepulang sekolah. Rumahnya memang tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar lima puluh meter saja. Biasanya perjalanan pulang itu terasa menyenangkan bagi Mikha. Namun, hari itu terasa berbeda.
Tiba-tiba Mikha mendengar suara teriakan dari dalam rumah.
“Aaaa … perempuan jalang! Kau wanita pembawa sial!”
Teriakan itu diikuti suara tamparan dan hantaman yang keras.
Plak!
Bug!
Buk!
Begitulah bunyinya.
Wajah Mikha berubah cemas. Langkahnya yang tadinya ringan menjadi pelan. Rasa takut perlahan datang menghampiri hatinya. Ada perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dengan rasa penasaran bercampur takut, Mikha mendekati pintu rumah. Perlahan ia mengintip dari balik pintu.
Betapa terkejut dan takutnya wajah anak enam tahun itu ketika melihat kedua orang tuanya sedang bertengkar hebat.
“Apa kau laki-laki tak bertanggung jawab! Kau biadab!” teriak ibunya dengan suara gemetar.
Tanpa aba-aba, ayahnya mendaratkan tamparan keras ke wajah ibunya. Tinju juga menghantam mulutnya tanpa ampun.
Dari balik pintu, Mikha melihat semuanya.
Perlahan, hampir tak terdengar, Mikha berbisik dengan suara kecil.
“Mamaaaa!”
Air mata mulai menetes. Tangisnya tertahan. Dadanya terasa sesak. Hari itu Mikha merasakan tekanan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Ia diam-diam menangis di balik pintu. Tubuh kecilnya terasa lunglai. Peluh dingin keluar dari dahinya. Di dalam hatinya, ia melihat sesuatu yang sangat menyakitkan.
Tanpa sadar, tangisnya semakin keras.
“Hiks… hiks… aaaa… waaaa…”
Suara tangisnya akhirnya terdengar oleh kedua orang tuanya.
Mereka menoleh. Mikha berdiri di samping pintu.
Ibunya yang bermulut berdarah dan bermata sembab langsung menyadari keberadaan Mikha. Ia mencoba berlari menghampiri anaknya.
Namun ayahnya masih saja menghantam.
Plaaak!
Satu tendangan keras mendarat di perut ibunya.
“Aaa… Ya Allah… sakit… ampun…,” jerit ibunya kesakitan.
“Aku mohon… sudahi… ada Mikha…,” katanya sambil menahan sakit.
Ibunya tetap berusaha merangkak mendekati Mikha. Dengan sisa tenaga, ia meraih tangan anaknya.
Ayahnya menatap mereka dengan wajah penuh amarah. Tanpa peduli, ia kembali melemparkan gelas ke arah ibunya. Beruntung gelas itu dapat ditepis.
Mikha kecil gemetar. Tubuhnya tak sanggup berlari.
Saat itu, ibunya tiba-tiba merangkul dan memeluknya erat.
Ibu dan anak itu berpelukan dalam ketakutan.
Namun dari belakang, ayahnya menarik rambut ibunya dengan kasar. Kata-kata kasar keluar dari mulutnya.
Mikha menjerit.
“Papa… sudah, Pa! Kasihani Mama!”
Akhirnya, dalam posisi masih berpelukan, ibunya tetap melindungi Mikha.
Ayahnya pergi dengan nada sinis.
“Awas kau ulangi lagi!” kata ayah Mikha sebelum meninggalkan mereka.
Rumah itu tiba-tiba menjadi sangat hening.
Hanya terdengar suara sesenggukan Mikha dan napas berat ibunya yang menahan sakit.
Ibunya berusaha menenangkan Mikha.
“Mikha… ayo diam! Mama tidak apa-apa,” katanya lembut sambil mengusap mata anaknya.
Namun wajah ibunya bengkak. Darah masih terlihat di sudut bibirnya. Hal itu membuat Mikha semakin takut.
“Mama… Mama jangan mati!” teriak Mikha sambil menangis keras.
Ibunya tersenyum lemah.
“Tidak kok. Mama tidak akan mati. Kan ada Mikha. Mama sayang Mikha,”
Ia mencoba mengalihkan perhatian anaknya.
“Nanti kita jajan, ya.”
Lalu ia berkata dengan suara lembut namun tegas.
“Mikha itu anak hebat. Mikha anak kuat. Tidak boleh menangis. Kan anak laki-laki.”
Perlahan pelukan itu terlepas. Mikha masih sesenggukan.
Ibunya menggenggam tangan Mikha dan menggandengnya berjalan ke arah sofa.
Mereka duduk bersama.
Namun mata Mikha terus menatap wajah ibunya yang sudah babak belur dipukul ayahnya.
Perlahan ibunya menyeka air mata. Ia juga mengelap darah di bibirnya akibat tamparan dan tinju tadi.
Sesekali terdengar keluhan pelan.
“Aduh… sssst… sakit…”
Mikha hanya menatap kosong. Ia bingung. Seolah bertanya dalam hati: apa yang sebenarnya terjadi?
Tak lama kemudian, ibunya berdiri dan berjalan ke arah dapur.
“Mama, mau ke mana?” tanya Mikha.
“Mama mau masak telur buat Mikha,” jawab ibunya sambil tersenyum, berusaha menghibur hati anak kecil itu.
Mikha hanya diam. Ia duduk di sofa, menyalakan televisi, lalu menonton serial kartun kesukaannya.
Beberapa saat kemudian, ibunya datang membawa sepiring nasi panas dengan telur kecap—makanan kesukaan Mikha.
“Mikha, yuk makan.”
Mikha hanya mengangguk dan menurut.
Ibunya menyuapi Mikha perlahan.
Namun di sela-sela itu, air mata ibunya jatuh dan berderai.
Mikha menatapnya dengan sunyi.
“Mama kenapa?” tanyanya polos.
Ibunya cepat menghapus air mata.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Mama senang Mikha sudah mulai besar.”
Lalu ia berkata lembut,
“Mikha harus banyak makan, supaya cepat tumbuh dan pintar.”
Mikha kembali menatap wajah ibunya.
Lalu, ia bertanya dengan polos,
“Mama, mata Mama kenapa? Kok biru? Dan ada darahnya?”
Mikha spontan mengusap air mata ibunya.
Ibunya sedikit mengaduh.
“Aduh… sakit…”
Ia memegang tangan Mikha dengan lembut dan menuntunnya menyentuh pipinya.
“Mama jangan sedih, kan, ada Mikha,” kata anak tujuh tahun itu dengan tulus.
Ibunya tersenyum tipis.
“Iya, Mama tidak apa-apa.”
Di ruangan kecil itu, hanya ada seorang ibu yang berusaha terlihat kuat.
dan seorang anak kecil yang belum sepenuhnya mengerti luka orang dewasa.
Bersambung …
Ditulis oleh: Chris Gangga Lala Pari
Editor: Martha Syaflina
Catatan:
Kisah ini berdasarkan kisah nyata.


