FEATUREDFeel GreatGaya HidupTOP STORIES

Kesehatan Mental di Era Digital: Mengapa Kita Mudah Merasa Lelah Mental?

Kesehatan mental kini menjadi topik yang semakin penting di tengah tuntutan hidup yang tinggi.

Salah satu fenomena yang paling sering dialami oleh pekerja maupun mahasiswa saat ini adalah burnout atau kelelahan mental yang ekstrem.

Secara psikologis, burnout bukan sekadar rasa lelah biasa setelah bekerja seharian.

Kondisi ini merupakan keadaan emosional, fisik, dan mental yang terkuras habis akibat stres yang berkepanjangan dan tidak terkelola dengan baik.

Gejala awal sering kali dimulai dengan hilangnya motivasi dan munculnya perasaan sinis terhadap pekerjaan.

Seseorang yang mengalami burnout cenderung merasa tidak berdaya, terjebak, dan kehilangan minat pada hal-hal yang dulunya mereka sukai.

Transisi dari kelelahan biasa menuju burnout sering kali tidak disadari karena terjadi secara bertahap.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik, seperti gangguan tidur dan penurunan sistem imun tubuh.

Penyebab utamanya sering kali berasal dari ketidakseimbangan antara beban kerja dan waktu istirahat.

Kurangnya kendali atas pekerjaan serta lingkungan sosial yang tidak mendukung juga mempercepat terjadinya penurunan performa mental seseorang.

Untuk mengatasi hal ini, para ahli psikologi menyarankan pentingnya menetapkan batasan (boundaries).

Belajar untuk berkata “tidak” pada beban tambahan yang melampaui kapasitas adalah langkah awal yang sangat krusial dalam pemulihan.

Selain itu, praktik mindfulness atau kesadaran penuh terbukti efektif untuk menurunkan tingkat kortisol atau hormon stres.

Meluangkan waktu sejenak untuk fokus pada pernapasan dapat membantu otak kembali tenang dan jernih.

Dukungan sosial dari teman, keluarga, atau profesional seperti psikolog juga memegang peranan penting.

Berbagi beban emosional dengan orang lain dapat mengurangi rasa terisolasi yang sering dirasakan oleh penderita stres berat.

Menjaga kesehatan mental adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi.

Dengan mengenali gejala sejak dini dan melakukan langkah preventif, kita dapat tetap produktif tanpa harus mengorbankan kesejahteraan jiwa.

Ditulis oleh: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam

Sumber:
1. American Psychological Association (APA)Burnout Prevention and Treatment: https://www.apa.org/topics/healthy-workplaces/burnout

2. World Health Organization (WHO)Burn-out an “occupational phenomenon”: https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

3. Psychology TodayUnderstanding Burnout: https://www.psychologytoday.com/intl/basics/burnout

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *