Hari Gizi Nasional ke-66: Kemenkes Ajak Warga Cegah Stunting dengan Pangan Lokal
Jakarta, MZK News – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memanfaatkan momentum peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 untuk memperkuat strategi pemenuhan gizi seimbang masyarakat melalui kekayaan pangan lokal.
Berdasarkan data terbaru Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, Indonesia masih menghadapi tantangan serius di mana satu dari lima balita mengalami stunting. Di sisi lain, masalah gizi berlebih juga menghantui masyarakat dengan angka mencapai 37,8 persen orang dewasa yang dikategorikan mengalami kelebihan berat badan atau overweight.
Kondisi kesehatan nasional ini kian mengkhawatirkan akibat pola makan masyarakat yang tidak beragam dan rendah serat. Data menunjukkan bahwa sebanyak 96,7 persen penduduk Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah-buahan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Lovely Daisy, menekankan bahwa edukasi harus terus dilakukan agar masyarakat kembali pada pola makan sehat.
“Melalui slogan ‘Sehat Dimulai dari Piringku’, kami mengajak masyarakat menerapkan konsep Isi Piringku dengan memanfaatkan pangan lokal yang kaya nutrisi,” ungkapnya pada Jumat (6/2/2026).
Dukungan terhadap kampanye pangan lokal juga datang dari pakar akademisi, Profesor Rimbawan, yang melihat potensi besar sumber pangan Nusantara dibandingkan produk impor. Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB ini menilai bahwa pangan lokal jauh lebih unggul secara kualitas karena tingkat kesegarannya yang terjaga berkat rantai pasok yang pendek.
“Pangan lokal lebih segar, mudah diakses, dan harganya terjangkau. Selain memenuhi gizi, mengonsumsi pangan lokal juga berdampak nyata bagi ekonomi petani kita,” jelas Rimbawan.
Selain masalah kekurangan gizi, Kemenkes juga memberikan perhatian khusus pada ancaman Penyakit Tidak Menular (PTM) yang dipicu oleh pola makan buruk, terutama di wilayah perkotaan. Konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan telah menjadi pemicu utama melonjaknya kasus hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.
Jika tren ini tidak segera ditekan melalui perbaikan gaya hidup dan pola makan, beban jaminan kesehatan nasional diprediksi akan terus membengkak di masa mendatang.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa regulasi ketat terhadap kandungan makanan menjadi langkah krusial yang sedang diperjuangkan. Kajian bersama BPOM menunjukkan potensi besar dalam menyelamatkan ratusan ribu nyawa jika kebijakan pengendalian lemak trans dan reformulasi makanan diterapkan.
“Kami bisa mencegah 310 ribu kematian dan 580 ribu penyakit jantung dengan pengaturan batas maksimum GGL dan label pangan yang lebih jelas,” tegas Nadia.
Melalui tema strategis “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”, pemerintah berupaya menciptakan budaya makan yang sehat namun tetap sesuai dengan kearifan lokal setempat. Hal ini dilakukan untuk mengatasi fenomena triple burden of malnutrition, yaitu kondisi kompleks di mana kekurangan nutrisi, kelebihan nutrisi, dan kekurangan zat gizi mikro terjadi secara bersamaan dalam satu populasi.
Pemerintah berharap pangan lokal dapat menjadi solusi yang berkelanjutan karena sifatnya yang murah namun berkualitas tinggi.
Peringatan HGN ke-66 ini diharapkan menjadi titik balik bagi kolaborasi lintas sektor untuk membangun fondasi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang sehat dan berdaya saing. Perbaikan pola konsumsi bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan gerakan bersama untuk melindungi generasi masa depan dari ancaman penyakit kronis. Dengan kembali ke piring yang berisi nutrisi lokal, Indonesia optimis dapat menuntaskan masalah gizi dan mencapai target kesehatan nasional secara lebih efektif.
Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: InfoPublik
