FEATUREDInternasionalNewsTOP STORIES

Donald Trump Ancam Balas Iran 20 Kali Lipat Jika Selat Hormuz Diblokade

Washington, MZK News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan menghentikan seluruh pengiriman minyak dari kawasan tersebut. Ancaman ini muncul sebagai respons atas serangan udara berkelanjutan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu.

Pihak Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan “satu liter minyak pun” meninggalkan wilayah tersebut jika kedaulatan mereka terus digempur. Ancaman blokade ini menyasar Selat Hormuz, jalur distribusi vital yang menangani seperlima pasokan minyak dunia.

Menanggapi gertakan tersebut, Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan yang jauh lebih keras melalui platform media sosialnya. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat siap dikerahkan secara masif jika aliran energi global tersebut terganggu.

“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat 20 kali lebih keras daripada saat ini,” tegas Trump dalam pernyataan resminya, Selasa (10/3/2026).

Di sisi lain, korban jiwa di pihak sipil terus berjatuhan akibat rentetan rudal yang menghujam berbagai kota di Iran. Duta Besar Iran untuk PBB melaporkan sedikitnya 1.332 warga sipil tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam konflik yang semakin tidak terkendali ini.

Kondisi lapangan pun kian mencekam dengan terbakarnya salah satu kilang minyak di Teheran yang menyemburkan asap hitam pekat ke langit. WHO bahkan memperingatkan adanya risiko kontaminasi udara dan air yang dapat memicu krisis kesehatan massal di wilayah terdampak.

Meskipun retorika perang menguat, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa pintu dialog dengan Washington kini telah tertutup rapat. Pengalaman pahit dari negosiasi sebelumnya membuat Iran enggan kembali ke meja perundingan.

“Kami telah membuat kemajuan besar dalam negosiasi, namun mereka tetap memutuskan menyerang kami. Berbicara dengan Amerika tidak lagi ada dalam agenda kami,” ujar Araqchi dalam wawancaranya dengan PBS.

Pasar energi global bereaksi cepat terhadap dinamika ini, dengan harga minyak mentah Brent yang sempat melonjak sebelum kembali turun tajam. Ketidakpastian ini diperparah dengan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran yang dianggap sebagai simbol perlawanan tanpa kompromi.

Sementara itu, dampak politik mulai terasa di dalam negeri Amerika Serikat menjelang pemilihan paruh waktu. Sebagian besar warga Amerika merasa khawatir akan kenaikan harga bensin, meski Trump menjanjikan kemenangan dalam waktu singkat atas konflik tersebut.

Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Reuters

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This will close in 0 seconds