FEATUREDInternasionalNewsTOP STORIES

Adu Tahan AS vs Iran: Strategi Garda Revolusi Guncang Ekonomi Global

Teheran, MZK News – Iran kini bertaruh pada strategi perang atrisi atau pelemahan untuk menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel. Alih-alih beradu kekuatan fisik secara frontal, Teheran memilih menyeret konflik ini ke dalam kontes ketahanan yang brutal guna menguras energi lawan secara politik dan ekonomi, Selasa (10/3/2026).

Strategi ini dijalankan dengan mengerahkan drone serta rudal untuk memutus rute energi vital di kawasan Teluk. Tujuannya sangat spesifik: mengguncang pasar global cukup keras hingga tekanan ekonomi memaksa Washington untuk menjadi pihak pertama yang menyerah.

Meski terpukul oleh serangan awal yang menewaskan tokoh kunci, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap memegang kendali penuh atas komando lapangan. IRGC kini berperan sebagai pengarah strategi sekaligus penentu target dalam upaya mempertahankan eksistensi Republik Islam.

“Bagi mereka, ini adalah pertarungan eksistensial. Mereka percaya kelangsungan hidup mereka sedang dipertaruhkan dan rela menghancurkan segalanya demi bertahan,” ujar Fawaz Gerges dari London School of Economics.

Dominasi Garda Revolusi semakin terlihat pasca pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Langkah ini menandai pergeseran kekuasaan di mana otoritas ulama kini sangat bergantung pada kemampuan militer Garda Revolusi dalam menghadapi badai kampanye AS-Israel.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga Iran benar-benar lumpuh. Trump memprediksi kemenangan akan diraih dalam waktu singkat agar Teheran tidak lagi memiliki kemampuan mengancam sekutu AS di masa depan.

Namun, pengamat militer Mohannad Hage Ali menilai ada misteri besar terkait sisa arsenal rudal Iran yang menjadi tulang punggung serangan mereka. Meski AS mengklaim banyak gudang senjata telah hancur, sumber regional menyebut Teheran masih menyimpan lebih dari separuh stok pra-perang.

Kondisi di dalam negeri Iran sendiri menunjukkan transisi menuju ekonomi perang yang ketat di bawah pengawasan IRGC. Distribusi logistik di pelabuhan kini dipercepat tanpa hambatan birokrasi guna memastikan rantai pasok tetap bergerak di bawah tekanan pengeboman.

Menariknya, serangan udara yang menghantam infrastruktur justru memicu gelombang solidaritas nasional di kalangan warga Teheran. Meski memiliki keluhan terhadap pemerintah, masyarakat cenderung bersatu demi mencegah disintegrasi negara yang mereka cintai.

“Masyarakat tidak siap jika Iran hancur berantakan. Hidup terus berjalan meskipun jendela-jendela bergetar siang dan malam akibat bom,” ungkap seorang narasumber dari dalam kota Teheran.

Kini, dunia tengah menantikan siapa yang akan berkedip lebih dulu dalam ujian ketahanan paralel ini. Apakah Donald Trump sanggup menanggung gejolak harga minyak menjelang pemilu paruh waktu, ataukah para pemimpin Iran yang akan runtuh di bawah tekanan militer.

Bagi Teheran, sekadar bertahan hidup dari gempuran salah satu armada militer terbesar dalam sejarah sudah dianggap sebagai kemenangan mutlak. Namun, Iran yang “berdarah” dan terluka ini diprediksi akan menjadi jauh lebih berbahaya dan sulit diprediksi di masa depan.

Reporter: Martha Syaflina
Editor: Khoirul Anam
Sumber: Reuters

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This will close in 0 seconds