FEATUREDTajukTOP STORIES

Wartawan Idealis yang Kehilangan Ibunya “Dedikasi Sunyi di Balik Torehan Pena”

Ada angka-angka yang hidup di dalam laporan anggaran negara.
Ada angka-angka yang tertulis dalam statistik kemiskinan.
Dan ada angka yang hidup sebagai luka.

Di sudut Pasar Sijunjung, seorang wartawan berdiri di kios ikan hiasnya. Siang hari ia berdagang untuk bertahan hidup. Malam hari ia menulis berita, menjaga jarak dari amplop, menjaga jarak dari kompromi. Ia bukan satu-satunya. Di banyak daerah, wartawan bekerja tanpa gaji tetap, tanpa standar upah layak, tanpa perlindungan sosial yang memadai.

Sore itu ibunya datang. Duduk pelan. Nafasnya berat. Lalu bertanya:

“Ga, Gangga … ada duit nggak, Nak, buat bayar BPJS? BPJS kita sudah lama menunggak.”

Sang anak diam sambil menundukan kepalanya karan saat itu dia tidak ada kemampuan untuk membayar tunggakan.

Ia terdaftar di BPJS Kesehatan. Namun, sistem tidak mengenal kata “sedang susah”. Tunggakan lima ratus ribu rupiah berdiri sebagai syarat administratif sebelum layanan optimal bisa diakses. Penyakit jantung tidak pernah menunggu kemampuan ekonomi membaik.

Ia seorang wartawan. Ia menulis tentang hak rakyat, tentang negara kesejahteraan, tentang jaminan sosial. Namun di hadapan ibunya sendiri, ia tak mampu menghadirkan lima ratus ribu rupiah itu.

Malam sebelum puasa pertama, sang ibu menelepon. Meminta rumah dibersihkan. Kulkas dirapikan. Ia tak ingin malu jika teman-temannya datang, Satu “pertanda” dan itu ternyata suara terakhirnya sebelum ibu menutup mata. Keesokkan harinya pada puasa pertama tepat pukul 14.30 WIB ia hembuskan nafas terakhirnya di Solok Nagari Selayo.

Kisah ini bukan sekadar tragedi keluarga. Ini potret lapisan sunyi yang jarang dibicarakan dalam diskursus kebijakan publik: kerentanan pekerja media di daerah.

Banyak wartawan lokal hidup dari honor per berita. Tanpa gaji pokok jelas. Tanpa asuransi tambahan. Tanpa jaminan hari tua. Sebagian bahkan tak tercatat dalam skema perlindungan ketenagakerjaan yang layak. Mereka diminta profesional, diminta independen, diminta menjadi pengawas kekuasaan. Tetapi, kesejahteraan mereka sendiri sering berada di wilayah abu-abu.

Negara tentu telah membangun sistem jaminan sosial nasional. Namun, desain kebijakan yang kuat di atas kertas tidak selalu lentur dalam praktik. Bagi pekerja dengan penghasilan fluktuatif, kewajiban iuran bulanan bisa menjadi beban saat pendapatan terputus. Ketika tunggakan terjadi, konsekuensinya nyata.

Pertanyaannya bukan semata-mata pada ada atau tidaknya program.
Pertanyaannya adalah: seberapa adaptif sistem terhadap realitas rakyat kecil?

Sang wartawan itu bukan lahir dari kemudahan. Sejak SMP ia telah bekerja di Maxima Musik Studio. Mengangkat speaker organ tunggal, memasang sound system, dibayar lima puluh ribu rupiah. Ia menjadi pemain band bayaran di festival kampung, bahkan dipercaya menjadi leader. Ia belajar berdiri di panggung sebelum berdiri di ruang redaksi.

Ia memilih menjadi wartawan karena percaya pada nilai: kebenaran, keberanian, dan pengabdian. Namun nilai tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan.

Tajuk ini bukan untuk menyalahkan negara secara membabi buta. Negara adalah konstruksi bersama. Tetapi, negara memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan sistem sosialnya tidak mematahkan mereka yang sedang jatuh.

Pers adalah pilar demokrasi. Tetapi, pilar tidak berdiri di ruang hampa. Ia berdiri di atas manusia-manusia yang punya ibu, keluarga, kebutuhan hidup. Ketika wartawan hidup dalam ketidakpastian ekonomi, independensi menjadi perjuangan harian, bukan sekadar slogan etika.

Bagaimana kita mengharapkan jurnalisme yang bersih jika kesejahteraannya rapuh?
Bagaimana kita menuntut integritas jika keamanan sosial belum terjamin?

Lima ratus ribu rupiah mungkin tidak menggetarkan neraca fiskal negara. Tetapi, ia telah menggetarkan satu keluarga. Ia menjadi simbol jarak antara kebijakan dan kenyataan.

Di balik setiap berita yang kita baca, ada wartawan yang mungkin sedang menahan duka. Tetap datang ke lokasi, tetap menulis dengan tenang, tetap menjaga jarak dari kompromi, meski hidupnya sendiri tak selalu stabil.

Tajuk ini adalah dedikasi bagi mereka—para jurnalis di garis depan yang tetap memilih integritas di tengah keterbatasan. Mereka yang tidak viral. Mereka yang tidak terkenal. Tetapi tetap setia pada tugas.

Negara tidak perlu dipermalukan.
Negara hanya perlu diingatkan.

Bahwa kesejahteraan jurnalis bukan sekadar urusan industri media, melainkan bagian dari kesehatan demokrasi itu sendiri.
Bahwa jaminan sosial bukan sekadar sistem iuran, melainkan jaring pengaman kemanusiaan.

Dan bahwa kadang-kadang, sejarah sebuah bangsa bisa tercermin dari satu pertanyaan sederhana seorang ibu kepada anaknya:

“Ga, Gangga … ada duit nggak, Nak?”

Kata terakhir yang akan teringat sepanjang Hidup sang anak!

Jika negara ingin pers tetap tegak, maka mereka yang menjaga nyala informasi tidak boleh dibiarkan rapuh sendirian.

Penulis: Chris Gangga Lala Pari
Editor: Martha Syaflina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *