FEATUREDOpiniTOP STORIES

EDITORIAL: Meski 2029 Masih Jauh, Pertarungan Gajah dan Banteng Sudah Dimulai

Rakernas PSI di Makassar, 29–31 Januari 2026, memicu eskalasi baru politik nasional. Jokowi bergerak dengan kendaraan baru, Megawati bersiaga menjaga rumah lama.

Eskalasi politik nasional mulai berguncang hebat. Kalender memang masih menunjukkan tiga tahun lebih menuju Pemilu 2029, tetapi manuver kekuasaan sudah melampaui jadwal resmi KPU. Getaran ini lahir dari pergeseran pengaruh yang kian terbuka, agresif, dan tak lagi tersamar. Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar menjadi lonceng pembuka bahwa kontestasi besar telah dimulai.

Rakernas PSI melampaui forum konsolidasi biasa. Panggung itu menjelma arena deklaratif. Dari Makassar, garis batas lama ditarik ulang. Loyalitas diuji. Pesannya tegas: stabilitas politik yang tampak tenang sesungguhnya menyimpan retakan strategis.

PSI, sang “Gajah” baru di rimba politik nasional, tampil provokatif dan percaya diri. Di bawah kepemimpinan Kaesang Pangarep, PSI tidak lagi sekadar berbicara soal ambang batas parlemen. PSI menantang dominasi PDI Perjuangan “Banteng” yang dua dekade terakhir menguasai poros kekuasaan nasional.

Faktor penentu eskalasi ini terletak pada sikap Joko Widodo. Di Makassar, Jokowi tidak berdiri di wilayah abu-abu. Ia memberi dukungan terbuka. Ia melimpahkan legitimasi. Ia menyatakan kesiapan turun langsung ke basis massa. Langkah itu menunjukkan keputusan besar: Jokowi memindahkan pusat gravitasi pengaruhnya.

Langkah ini bukan sekadar ekspresi emosional. Ini kalkulasi kekuasaan pasca-presidensi. Jokowi membangun benteng politik baru agar warisannya tidak sepenuhnya ditentukan struktur lama yang dulu membesarkannya. Relasinya dengan PDIP dan secara simbolik dengan Megawati Soekarnoputri memasuki fase perceraian strategis. Kesamaan arah tidak lagi otomatis.

Megawati memilih sikap berbeda. Ia menjaga rumah lama dengan disiplin struktur, penguatan kader, dan keteguhan ideologi. Teuku Umar tidak menunjukkan kepanikan. PDIP mengandalkan mesin partai yang berakar kuat. Saat elite PDIP ditanya soal 2029, jawaban mereka konsisten: rakyatlah yang menentukan. Sikap itu menunjukkan keyakinan, bukan keraguan.

Namun medan 2026 berbeda. Pertarungan Gajah dan Banteng menghadirkan dua mazhab politik yang saling berhadapan.

Banteng (PDIP) mewakili politik institusional yang solid, terstruktur, hierarkis, dan berbasis massa tradisional.

Gajah (PSI) mewakili politik personalistik yang cair, bertumpu pada figur sentral, dan bergerak cepat di ruang persepsi digital.

Dampaknya terasa hingga akar rumput. Basis “Jokowisme” terbelah antara loyalitas pada figur dan loyalitas pada partai. Partai-partai menengah membaca PSI sebagai magnet koalisi baru yang berpotensi mengacak peta lama.

Namun PSI juga menghadapi ujian serius. Ketergantungan pada figur Jokowi dan trahnya menyimpan risiko. Jika figur melemah, kendaraan bisa goyah. Rakernas Makassar harus menjadi konsolidasi gagasan, bukan sekadar etalase dukungan simbolik.

Makassar kini tercatat sebagai penanda zaman. Dari kota ini, Gajah resmi memasuki gelanggang. Banteng pun bersiaga di depan gerbangnya sendiri. Politik nasional bergerak cepat, meniadakan masa jeda, dan memanaskan arena lebih dini.

Satu hal terang: Pemilu 2029 memang masih jauh secara administratif. Tetapi perebutan hegemoni kekuasaan telah dimulai hari ini.

Siapa yang bertahan struktur yang mengakar atau persepsi yang melesat—akan ditentukan oleh daya tahan, konsolidasi, dan pilihan rakyat.

Pertarungan Gajah dan Banteng tidak lagi sekadar metafora. Ia telah menjadi realitas politik yang hidup dan terus membara.

Penulis: Chris Gangga L.P.
Editor: Martha Syaflina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *