Jurnalis dari Ranah Sijunjung yang Menjadi Menteri: Jejak Global Tan Sri Aishah Ghani
Sejarah kepemimpinan perempuan di Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari nama Tan Sri Datin Paduka Seri Dr. Aishah Ghani sosok jurnalis wartawati senior yang bertransformasi menjadi negarawan. Di balik reputasinya sebagai Menteri Kebajikan Masyarakat Malaysia dan pemimpin Pergerakan Wanita UMNO, berdiri akar budaya yang kokoh, ia adalah putri Minangkabau dari Muaro Bodi, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Dari ranah Minangkabau yang menjunjung tinggi pendidikan dan tradisi intelektual, Aishah Ghani mewarisi etos berpikir kritis dan keberanian bersuara. Nilai adat dan pendidikan Islam yang ia tempuh di Diniyah Putri Padang Panjang serta Perguruan Tinggi Islam di Padang membentuk fondasi moral dan intelektualnya. Ia bukan hanya produk sistem pendidikan kolonial atau nasional Malaysia, melainkan hasil pertemuan peradaban: tradisi Minangkabau, Islam modern, dan pendidikan Barat.
Puncaknya, pada Desember 1958, ia menyelesaikan studi kewartawanan di Regent Street Polytechnic, London. Pendidikan ini mengasah ketajaman analisisnya terhadap dinamika kekuasaan dan opini publik. Dari ruang redaksi Pelita Malaya hingga Berita Harian, ia memahami bahwa pena bukan sekadar alat tulis, melainkan instrumen pembentuk kesadaran politik.
Langkahnya memasuki politik bukan lompatan mendadak, melainkan evolusi logis dari seorang jurnalis yang memahami denyut bangsa. Ia mencatat sejarah sebagai wanita pertama yang dilantik ke Dewan Negara Malaysia, kemudian dipercaya memimpin Kementerian Kebajikan Masyarakat (1973–1984). Dalam peran itu, ia memperluas agenda perlindungan sosial dan pemberdayaan perempuan, sekaligus membawa Malaysia ke forum internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Jejak Aishah Ghani memperlihatkan bahwa latar jurnalistik memberinya keunggulan strategis: kemampuan membaca opini publik, merumuskan narasi kebijakan, serta membangun legitimasi politik. Ia menggabungkan kecerdasan komunikasi dengan ketegasan kepemimpinan.
Muaro Bodi, Sijunjung, mungkin tampak kecil dalam peta global. Namun dari tanah itulah lahir seorang perempuan yang menghubungkan ranah Minangkabau dengan panggung dunia. Ia membuktikan bahwa identitas lokal tidak membatasi capaian internasional; justru menjadi fondasi moral dalam mengelola kekuasaan.
Tan Sri Aishah Ghani bukan sekadar tokoh politik Malaysia. Ia adalah representasi perantau Minangkabau yang mengangkat martabat perempuan, menguatkan kebijakan sosial, dan menorehkan jejak global dari akar kampung halaman.
Dari Sijunjung Lahir nya para tokoh bangsa , lahirnya suara Perdaban. Dari jurnalistik , lahir nyakepemimpinan. Dari tradisi, lahirlah sejarah.
Penulis: Chris Gangga L.P.
Editor: Martha Syaflina
