Kearifan Lokal sebagai Fondasi Ketahanan Sosial–Ekologis: Refleksi Pasca-Bencana
Oleh: Muhayatul, S.E.,M.Si (Mahasiswa Doktoral Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang).
Bencana ekologis di Sumatera Barat tidak dapat dipahami sebagai peristiwa sesaat yang berdiri sendiri. Bencana ini merupakan bagian dari relasi panjang antara manusia, alam, dan kebudayaan yang terbentuk selama berabad-abad. Galodo (banjir bandang), longsor bukan hanya fenomena geofisik, melainkan peristiwa sosial yang menguji daya lenting masyarakat, kohesi sosial, dan kapasitas kebijakan publik.
Dalam konteks ini, kearifan lokal Minangkabau menjadi titik masuk penting untuk memahami bagaimana masyarakat bertahan, beradaptasi, dan membangun kembali kehidupan pasca-bencana. Pengurangan risiko bencana di wilayah rawan tidak cukup hanya ditempuh melalui pendekatan teknokratis.
Mitigasi dan adaptasi bencana harus dibangun di atas pemahaman spasial, sosial, dan ekologis yang kontekstual, bukan semata transfer teknologi (Hermon, 2019).
Tata kelola risiko berbasis wilayah dan keterlibatan aktor lokal dalam membangun kesiapsiagaan, integrasi dimensi lingkungan dan sosial dalam perencanaan adaptasi, terutama di wilayah dengan kerentanan struktural tinggi menjadi penting (Oktorie et al., 2019; Putra et al., n.d.). Kerangka pemikiran ini menyediakan fondasi konseptual yang kuat untuk membaca peran kearifan lokal sebagai modal adaptif dalam merespon bencana.
Penelitian (May Nessa Yolanda & Fahmi, 2025) menunjukkan bahwa penurunan risiko korban jiwa lintas generasi tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui internalisasi pengetahuan lokal dalam tindakan sosial.
Pada level struktural, masyarakat mengembangkan pola permukiman yang menjauhi alur sungai, memanfaatkan rumah gadang berbahan kayu lentur yang adaptif terhadap guncangan, serta membangun jembatan tanpa penyangga tengah untuk mengurangi risiko sumbatan material saat galodo.
Kemudian pada level non-struktural, masyarakat mengenali tando-tando alam seperti hujan di rimbo, perubahan aliran bangkahan sampik, dan bunyi gamuruah sebagai sistem peringatan dini berbasis observasi ekologis.
Praktik mancari rumah dunsanak serta penyebaran informasi melalui tambo (lapau, masjid, komunikasi lisan) menjadi mekanisme evakuasi dan koordinasi sosial yang efektif. Efektivitas sistem ini tercermin dalam penurunan korban jiwa dari peristiwa galodo 1979 ke 2009 hingga 2024.
Kapasitas adaptasi lokal sering kali lebih responsif karena tertanam dalam pengalaman sehari-hari dan kepercayaan sosial.
Dalam perspektif sosiologi lingkungan, kearifan lokal berfungsi sebagai early warning system sosial-ekologis yang tidak bergantung pada infrastruktur mahal, tetapi pada kelekatan pengetahuan dengan praktik hidup. Namun, keberhasilan ini juga mengungkap paradoks kebijakan. Kearifan lokal terbukti bekerja, tetapi sering kali berada di luar sistem formal.
Dalam banyak intervensi pasca-bencana, kebijakan cenderung mengedepankan relokasi massal, rumah standar, dan sistem peringatan berbasis teknologi yang tidak selalu terhubung dengan kanal komunikasi lokal.
Akibatnya, modal sosial yang justru menjadi sumber ketahanan dapat melemah.Tata kelola risiko yang mengabaikan aktor dan institusi lokal berisiko menciptakan maladaptation upaya adaptasi yang justru menambah kerentanan sosial (Oktorie et al., 2019). kebijakan yang memprioritaskan pemetaan partisipatif, peningkatan kesadaran publik, dan koordinasi kelembagaan berada di urutan teratas.
Yang penting, revitalisasi kearifan lokal muncul sebagai elemen strategis, baik dalam mitigasi maupun adaptasi.Pada sisi adaptasi, perubahan konstruksi rumah agar lebih tahan bencana, pelibatan pemuda sebagai penggerak, serta penerapan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari menjadi prioritas (Asman et al., 2020).
Artinya adaptasi merupakan proses sosial–ekologis, bukan sekadar teknis. Lebih lanjut pengetahuan lokal/kearifan lokal dalam pengurangan risiko bencana akan meningkatkan legitimasi kebijakan dan efektivitas respons (Gaillard & Mercer, 2013).Adaptasi berbasis komunitas yang menghormati pengetahuan lokal lebih berkelanjutan dibanding pendekatan top-down(Kelman, 2017).
Kemudian studi (Lavigne et al., 2008) tentang perilaku masyarakat di sekitar gunung api di Indonesia memperlihatkan bahwa kepekaan terhadap tanda alam dan jaringan sosial lokal berperan penting dalam mengurangi korban.
Artinya adaptasi efektif memerlukan context-specific solutions yang memadukan pengetahuan lokal dan sains modern.Dari beberapa kajian literature empiris tampak jelas bahwa problem utama pasca-bencana ekologis di Sumatera Barat bukan kekurangan pengetahuan, melainkan ketimpangan relasi antara pengetahuan lokal dan kebijakan publik.
Kearifan lokal kerap diromantisasi sebagai identitas budaya, tetapi belum dilembagakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Akibatnya, kebijakan pasca-bencana cenderung seragam, ahistoris, dan kurang sensitif terhadap struktur sosial.Strategi pasca-bencana ekologis di Sumatera Barat perlu diarahkan pada penguatan nagari sebagai unit sosial–ekologis.
Kearifan lokal perlu diinstitusionalisasikan dalam sistem kebencanaan formal. Tando-tando alamyang telah teruji harus diakui sebagai indikator lokal dalam sistem peringatan dini, lalu diintegrasikan dengan teknologi seperti laporan terhubung ke BPBD. Masjid, lapau, dan perangkat nagari perlu diposisikan sebagai kanal resmi komunikasi darurat (May Nessa Yolanda & Fahmi, 2025).
Kedua, rekonstruksi pasca-bencana harus dipahami sebagai proses sosial–budaya. Rumah dan permukiman adalah ruang sosial yang menopang solidaritas dan akses penghidupan. Relokasi hanya boleh dilakukan dengan mempertimbangkan jaringan kekerabatan dan mata pencaharian, agar tidak merusak modal sosial.
Ketiga, regenerasi pengetahuan menjadi kunci, pemuda nagari perlu dilibatkan sebagai penjaga pengetahuan lokal sekaligus penghubung dengan sains dan teknologi.
Dalam perspektif Ilmu Lingkungan, refleksi ini menegaskan bahwa ketahanan ekologis tidak dapat dipisahkan dari ketahanan sosial dan budaya.
Lingkungan bukan sekadar entitas fisik, tetapi ruang hidup yang dimaknai dan dikelola melalui nilai kolektif. Ketika kearifan lokal dipadukan dengan pendekatan ilmiah, hasilnya bukan hanya penurunan risiko bencana, tetapi juga pemulihan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pasca-bencana ekologis seharusnya dipandang sebagai momentum pembelajaran sosial. Bukan hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi menata ulang relasi manusia – alam – kebijakan.
Sumatera Barat memiliki modal sosial dan kultural yang kuat untuk itu. Agenda ke depan adalah merumuskan model kebijakan kebencanaan yang berakar pada kearifan lokal, diuji secara ilmiah, dan diimplementasikan secara institusionalagar kearifan lokal tidak sekedar narasi budaya, tapi fondasi ketahanan sosial–ekologis.
Referensi
Asman, A., Barlian, E., Hermon, D., Dewata, I., & Umar, I. (2020). Mitigation and Adaptation of Community using AHP in Earthquake Disaster-Prone Areas in Pagar Alam City – Indonesia. International Journal of Management and Humanities (IJMH), 4(9), 34–38. https://doi.org/10.35940/ijmh.I0851.054920
Gaillard, J. C., & Mercer, J. (2013). From knowledge to action: Bridging gaps in disaster risk reduction. Progress in Human Geography, 37(1), 93–114. https://doi.org 10.1177/0309132512446717
Hermon, D. (2019). Mitigation and Adaptation: Disaster of Climate Change. Sara Book Publication. India.
Kelman, I. (2017). Linking disaster risk reduction, climate change, and the sustainable development goals. Disaster Prevention and Management, 26(3), 254–258. https://doi.org/10.1108/DPM02-2017-0043
Lavigne, F., De Coster, B., Juvin, N., Flohic, F., Gaillard, J.-C., Texier, P., Morin, J., & Sartohadi, J. (2008). People’s behaviour in the face of volcanic hazards: Perspectives from Javanese communities, Indonesia. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 172(3), 273–287. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jvolgeores.2007.12.013
May Nessa Yolanda, & Fahmi, K. (2025). Mitigasi Bencana Galodo Berbasis Kearifan Lokal di Nagari Pasia Laweh Kabupaten Tanah Datar. Jurnal Perspektif, 8(3), 370–382. https://doi.org/10.24036/perspektif.v8i3.1275
Oktorie, O., Barlian, E., Putra, A., & Ramadhan, R. (2019). DISASTER MITIGATION BASED ON ENVIRONMENTAL OF COASTAL AREA COMMUNITIES IN PARIAMAN CITY INDONESIA. In Geography and Geography Education (Vol. 3, Issue 2). Online. http://sjdgge.ppj.unp.ac.id/index.php/
Putra, A., Dewata, I., Gusman, M., & Program, D. (n.d.). LITERATURE REVIEWS: HYDROMETEOROLOGICAL DISASTERS AND CLIMATE CHANGE ADAPTATION EFFORTS. http://sjdgge.ppj.unp.ac.id/index.php/Sjdgge